Hukum & Kriminal

Dianggap Cemarkan Nama Baik Klinik, Mantan Perawat Dilaporkan Polisi

Direktur PT Klinik Halim Hasanah Medika, Hani Alfiayutlaili Mufida menunjukan Surat Tanda Registrasi milik Putra.

Malang (beritajatim.com) – Bermula dari persoalan sepele pegawai non aktif Klinik Pratama Klagen Medis, Tajinan, Malang yakni, THAS dilaporkan ke Polres Malang oleh Direktur PT Klinik Halim Hasanah Medika, Hani Alfiayutlaili Mufida, pada 27 Agustus 2020 kemarin.

Kuasa hukum PT Halim Hasanah Medika, Yayan Rianto SH mengatakan, kasus ini berawal dari banyaknya pelanggaran yang dilakukan oleh THAS selama bekerja di klinik itu. Jenis pelanggaran yang dilakukan antara lain, sering memakai kaos di jam kerja, padahal aturannya berkemeja, tidak menggunakan name tag, bahkan sampai merokok di dalam area klinik.

Karena dianggap sering melakukan pelanggaran meski sudah diperingatkan, Direktur PT Halim Hasanah Medika memberinya peringatan. Puncaknya, THAS dikeluarkan dari grup konsul WhatsApp untuk dievaluasi. THAS menganggap peringatan yang diberikan klinik sebagai tindakan pemecatan sepihak.

THAS kemudian melayangkan somasi dengan tembusan hingga ke Dinkes Jatim, IDI Malang, Polres Malang, hingga Menkes RI. Dalam somasi itu THAS juga menginginkan izin praktik klinik dicabut. Diketahui, THAS juga meminta bantuan Kumdam V/Brawijaya untuk menangani masalah ini.

“Dari sinilah THAS diadukan karena diduga mencemarkan nama baik klinik dan sangat merugikan klien saya. THAS dikeluarkan dari grup itu bukan dipecat, tapi dievaluasi karena yang bersangkutan ada masalah disiplin,” kata Yayan, Minggu (30/8/2020).

Dalam catatan perusahaan, selama 2,5 bulan sejak Januari 2020 THAS sudah banyak membuat pelanggaran di klinik. Setelah dikeluarkan dari grup whatsapp internal klinik, THAS ingin Surat Tanda Registrasi (STR) yang dibawa klinik itu dikembalikan. Namun, upaya THAS untuk meminta STR dianggap tidak benar dan tidak kooperatif.

“SP ini menyatakan klien saya menggelapkan STR, padahal STR ini ada dan siap diberikan asalkan datang baik-baik dan meminta maaf atas kesalahanya. Dia kemudian membuat somasi, membuat laporan. Salah satu tujuannya menutup dan mencabut izin praktik dokter. Apa hubungannya STR dan cabut izin praktik. Tidak ada hubungannya,” papar Yayan.

Owner klinik PT Halim Hasanah Medika, dr Awwahun Halim, MMRS, mengatakan sampai saat ini pihak klinik menunggu penyelesaian secara kekeluargaan antara pihaknya dan THAS selaku pegawai non aktif klinik. Pihak klinik sempat menghubungi THAS namun tidak tersambung karena nomor telepon Halim dan Hani diblokir oleh THAS.

“Persepsi dia keluar sendiri, padahal kita akan melakukan evaluasi pegawai. Dia juga sempat membalas di grup WA dan pasti dibaca kalau dikeluarkan dari grup itu hanya dievaluasi sampai batas waktu yang ditentukan. Kami menunggu itikad baik, kalau mau datang dan minta maaf ya akan diberikan STR nya. Kalau masih diperpanjang ya akan dibuktikan siapa yang benar,” tandasnya.

Sementara itu, PT Klinik Halim Hasanah Medika merupakan klinik kesehatan yang menyasar ke sejumlah desa tidak terjangkau oleh Puskesmas atau klinik kesehatan lainnya. Di Kabupaten Malang ada sekitar 5 klinik yang mereka abdikan untuk masyarakat desa. Biaya yang ditarifpun tidak begitu besar, kisaran Rp10 ribu untuk balita atau bayi dan kisaran Rp20 ribu untuk dewasa saat berobat. [luc/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar