Iklan Banner Sukun
Hukum & Kriminal

Catut Pegawai LP5N-NKRI Pusat, Ini Modus Penipuan Rekrutmen di Sidoarjo

Sidoarjo (beritajatim.com) – Kasus penipuan dengan modus rekrutmen Lembaga Pusat Pengendali Pengangkatan dan Pembelanjaan Pegawai Negara (LP5N) Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), bukan PNS seperti berita sebelumnya, yang diduga dilakukan KSM (57) warga Jumputrejo Sukodono, sepertinya selain AS (25) warga Bluru Kidul Sidoarjo, juga ada korban lainnya.

Ungkapan itu disampaikan oleh AS (25 tahun) salah satu warga asal Bluru Kidul, Sidoarjo yang jadi korban penipuan rekrutmen tersebut, dan uang yang sudah diberikan ke KSM senilai Rp 65 juta, tak kunjung balik dan pekerjaan yang dijanjikan sampai kini tak ada kejelasan.

AS yang berteman dengan anak terduga pelaku penipuan, KSM (57 tahun), sempat dimintai bantuan untuk menginput data nama orang-orang yang mendaftar dalam rekrutmen itu.

“Ada teman saya yang juga mendaftar dan dimintai terduga pelaku (KSM, red) uang senilai Rp 30 juta untuk pendaftaran. Namanya ada, dan bertepatan ambil seragam di rumah KSM, disitu juga barengan orang banyak. Ada yang dari Sidoarjo dan juga Surabaya,” kata AS.

SU (46) ibu AS mengungkapkan, ia pernah mendatangi rumah pelaku untuk meminta kejelasan perihal pendaftaran anaknya itu. Saat itu, sempat ada itikad baik dari pelaku untuk mengembalikan uang pendaftaran.

Dalam surat pernyataan janjinya 3 bulan uangnya dikembalikan, namun sampai 6 bulan tidak ada kabar. “Malah kalau saya ke sana, KSM marah-marah karena diminta uangnya,” jelasnya.

Dengan ketidakjelasan itu, pihak keluarga pun akhirnya melaporkan insiden ini ke kepolisian. Harapannya, agar KSM segera ditindak dan tidak ada korban lainnya. Laporan sudah sejak 2020. Tapi baru Kamis minggu kemarin dipanggil lagi dan dibuatkan berkas laporan. “Saksi-saksi juga sudah dilakukan pemanggilan sekarang,” terangnya.

Bermaterai. Surat pernyataan yang ditulis oleh KSM terduga pelaku penipuan rekrutmen pegawai LP5N-NKRI

Sementara itu, selaku terlapor, KSM
menyatakan bahwa dirinya hanya sebagai perantara yang menyalurkan ke lembaga pusat independen negara yang bernama LP5N-NKRI. KSM mengaku jika sebelum dilaporkan ke Polresta Sidoarjo, ia sempat tiga kali bertemu dengan pihak keluarga korban AS dirumahnya.

Dari ketiga pertemuan tersebut, KSM mengatakan bahwa maksud dari mereka datang adalah menginginkan dikembalikannya uang total senilai Rp. 65 juta kepada AS.

“Saya ini dilaporkan oleh pihak sana terkait penipuan pada tahun lalu. Tapi sebelumnya sudah saya jelaskan, kalau uang tersebut bisa kembali ketika proses ini selesai. Tapi mereka nggak sabar jadi mendesak saya terus untuk segera mengembalikan secepatnya,” dalih KSM saat dikonfirmasi Rabu (22/6/2022).

Ia mengaku, panggilan pertama oleh Polresta Sidoarjo terkait dana yang telah diberikan keluarga AS sebesar Rp 65 juta itu dikemanakan. Dirinya mengaku uang itu disetorkan ke pusat LP5N-NKRI melalui transfer antar bank.

KSM juga meminta jika kedepan, tak hanya dirinya saja yang diperiksa. Ia meminta pihak kepolisian untuk memeriksa orang-orang pusat LP5N-NKRI. “Seharusnya kan orang-orang pusat juga dipanggil untuk pemeriksaan. Karena saya ini kan intinya hanya perantara menyetorkan saja,” terangnya.

Tidak hanya itu KSM menambahkan bahwa LP5N-NKRI yang ia ikuti selama ini adalah lembaga independen negara yang difungsikan untuk mengangkat pegawai honorer yang ada di Indonesia saat ini. “Lembaga ini adalah lembaga independen yang didanai oleh dana hibah negara dan bank dunia. Jadi kedepan, jika sudah berjalan, lembaga ini akan mengangkat 7 juta pegawai honorer yang ada di Indonesia,” dalih KSM. (isa/kun)


Apa Reaksi Anda?

Komentar