Hukum & Kriminal

Cabuli 15 Anak, Instruktur Pramuka Ini Dituntut Kebiri

Sabetania Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejati Jatim.

Surabaya (beritajatim.com) – Jaksa Penuntut Umum (JPU) Sabetania dari Kejati Jatim menuntut pidana penjara selama 14 tahun pada Rahmat Santoso Slamet (30) seorang instruktur Pramuka karena melakukan pencabulan terhadap 15 anak yang masih dibawah umur.

Aspidum Kejati Jatim, Asep Mariono menyatakan bahwa tuntutan hukuman kebiri yang dilayangkan pihaknya terhadap terdakwa instruktur Pramuka, Rahmat Santoso berdasarkan beberapa pertimbangan.

Pertimbangan yang memberatkan terdakwa menurut Asep yaitu terdakwa merupakan seorang pendidik yang seharusnya mengayomi.

“Kedua, dari hasil psikologis satu diantara korbannya terindikasi untuk menjadi pelaku,” terang Asep, Selasa (5/11/2019).

Tak hanya itu, masih kata Asep, perbuatan terdakwa juga telah berlangsung lama dari tahun 2017 hingga 2019.

“Dan menurut hukuman tersebut bisa berdampak jera bagi terdakwa,” lanjut Asep.

Perlu diketahui selain hukuman kebiri kimia, terdakwa juga dituntut hukuman 14 tahun penjara dan denda Rp 100 juta dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Senin (4/10/2019) kemarin.

Terdakwa dijerat Pasal 82 ayat (2) Juncto Pasal 76E UU RI No. 17 tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU no 1 tahun 2016 tentang Perbuatan Kedua atas UU RI No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan anak menjadi UU Jo. UU RI No. 35 tahun 2014 tentang Perubahan atas UU RI No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Diketahui sebelumnya, Kasubdit IV Ditreskrimum Polda Jatim AKBP Festo Ari Permana mengungkap latar belakang terdakwa berperilaku cabul ‘sesama jenis’ yang menyasar anak dibawah umur. Ia menuturkan, terdakwa ternyata memiliki pengalaman buruk di masa lalu.

Kepada polisi, terdakwa pernah menjadi korban pelecehan seksual oleh seseorang dimasa lalu.

“Berdasarkan pernyataan dari si pelaku ternyata si pelaku itu pernah diperlakukan semacam itu (pernah jadi korban pencabulan),” ujarnya.

Namun Festo belum bisa memaparkan perihal kapan dan dimana kejadian pencabulan yang dialami pelaku dimasa lalu.

“Nah untuk pastinya kami akan mendalami itu kapan Si pelaku pernah punya pengalaman yang jadi korban pencabulan,” lanjutnya.

Mengingat pengalaman buruk itu telah membekas dalam diri pelaku, tak pelak muncullah perilaku serupa di kemudian hari pada diri pelaku. [uci/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar