Hukum & Kriminal

Bule Belanda Lakukan Reka Adegan Pembunuhan, Emosi Keluarga Korban Tak Terbendung

Zaenal Abidin (tengah) putra pertama Nur Khofiani emosi dan menangis saat melihat pembunuh ibunya datang melakukan rekonstruksi di rumahnya di Kelurahan Gombengsari, Kecamatan Kalipuro, Rabu (8/1/2020). (rin)

Banyuwangi (beritajatim.com) – Keluarga Nur Khofiani, korban pembunuhan bule Belanda, datang sejak awal di rumah pelaku di Kelurahan Gombengsari, Kecamatan Kalipuro. Mereka tampak memperhatikan suasana sekitar kediaman Hendrik Tibboel tersebut.

Tak hanya mereka, warga sekitar juga tampak simpati untuk melihat langsung kedatangan tetangganya Mister Hend, sapaan akrab Hendrik Tibboel. Bahkan, saking banyaknya warga, lalu lintas kendaraan di depan rumah pelaku yang sempit tiba-tiba tersendat.

Tak berselang lama, mobil tahanan Polresta Banyuwangi datang. Di dalamnya berisi Hendrik Tibboel yang akan digelandang ke dalam rumah. Keluarga korban sudah berjubel di depan gerbang. Mereka tak sabar menunggu pria yang dulu menjadi bagian keluarganya itu.

Tak menunggu lama setelah pihak pengacara datang, Hendrik Tibboel keluar dari mobil tahanan menuju rumahnya. Bule Belanda yang saat itu memakai kaos tahanan warna biru pun dijaga ketat oleh anggota Sabhara Polresta Banyuwangi.

Bagaimana reaksi keluarga korban yang telah menunggu di depan gerbang? Melihat Hendrik melintas, tangan Evi, kakak korban pembunuhan, sempat akan memukul wajah bule tersebut. Akan tetapi tak sampai karena terhalang tubuh polisi.

Hendrik Tibboel melenggang masuk ke dalam rumah untuk meragakan adegan pembunuhannya. Sebanyak 15 adegan berhasil dilakukan dengan baik sesuai berita acara perkara (BAP) penyidikan.

Rekontruksi usai, Hendrik Tibboel kembali digelandang menuju mobil tahanan. Ia dijaga ketat petugas polisi. Dikhawatirkan adanya reaksi keras dari warga, pria yang telah tinggal selama 6 tahun di Banyuwangi itu diminta merunduk.

Sontak saja, tak berhasil di percobaan pertama saat masuk ke rumah, keluarga korban yang penuh amarah mencoba merangsek di kesempatan saat pulang. Meskipun lagi-lagi gagal karena penjagaan ketat polisi. “Tak pateni koen, kurang ajar wani mateni ibuku. (Saya bunuh kamu, kurang ajar berani membunuh ibuku),” teriak Zaenal Abidin, putra pertama Nur Khofiani sambil dipegang oleh petugas.

Meski demikian, aksi brutal pemuda yang masih duduk di bangku Madrasah Aliyah itu mampu diredam oleh keluarga lainnya. Kendati emosinya masih tetap meledak kala melihat mobil tahanan melintas di hadapannya. “Saya minta dihukum mati, saya berharap aparat kepolisian dapat mengungkapnya. Sampaikan juga ke kedutaan besar Belanda. Bagaimana nasib anak-anaknya, ini ada tiga. Satu sekolah di MAN, yang cewek sekolah di SD dan satunya masih berusia 3 tahun. Ini sementara ikut di rumah saya,” ujar Evi, kakak korban pembunuhan.

Pembunuhan Nur Khofiani oleh Hendrik Tibboel terjadi pada 23 Desember 2019 lalu di rumah kediaman sang bule di Kelurahan Gombengsari, Kecamatan Kalipuro. Saat ini, polisi telah melakukan rekonstruksi dan reka adegan pembunuhan tersebut. (rin/kun)

Apa Reaksi Anda?

Komentar