Hukum & Kriminal

Bobol Kartu Kredit dan Raup Keuntungan Rp 5 Miliar, Hendra Dijerat Pasal UU ITE

Surabaya (beritajatim.com) – Nikmati keuntungan mencapai Rp 5 miliar saat melakukan spamming dan pembobolan kartu kredit, Hendra Kurniawan dan Prasetio menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Selasa (3/3/2020).

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Rakhmawati Utami menjerat terdakwa dengan UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Dalam dakwaannya, Jaksa menyebut jika kedua terdakwa bersama 16 terdakwa lainnya (berkas terpisah) secara bersama-sama dengan sengaja melakukan transmisi elektronik milik orang lain.

“Berawal dari informasi masyarakat yang melihat kegiatan mencurigakan terkait dengan kejahatan dunia maya yang dilakukan oleh terdakwa Hendra dkk di sebuah rumah di Jalan Balongsari Tama, Surabaya. Selanjutnya anggota dari Siber Ditreskrimsus Polda Jatim melakukan penyelidikan dan diketahui terdakwa Hendra membentuk sebuah kelompok yang terorganisir terdiri dari beberapa tim atau unit kerja,” ujarnya saat menbacakan surat dakwaannya.

Selanjutnya, anggota Siber Ditreskrimsus Polda Jatim menggerebek rumah tersebut dan berhasil mengamankan barang bukti. “Pada saat memeriksa akun Telegram milik terdakwa Prasetio ditemukan chat antar mereka yang berisi distribusi, link iklan, username dan password akun google developer, perpindahan akun gmail, nama domain, dan permintaan payment atau pembayaran menggunakan data kartu kredit. Serta akun email yang didalamnya terdapat data-data kartu kredit milik orang lain (dari luar negeri) hasil kegiatan spamming,” bebernya.

JPU Rakhmawati menambahkan, dari hasil kejahatan yang terdakwa Hendra peroleh selama melakukan usaha ini sebesar Rp 6,1 miliar. “Perbuatan para terdakwa sebagaimana diatur dalam Pasal 32 ayat (1) jo Pasal 48 ayat (1) UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE jo UU RI Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP,” pungkasnya. [uci/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar