Hukum & Kriminal

BNNK Gresik Ringkus Pengedar Sabu Jaringan Lapas

Gresik (beritajatim.com) – Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Gresik meringkus Eko Rusdiyanto (32).pengedar sabu jaringan lembaga pemasyarakatan atau Lapas. Pemuda asal Kecamatan Menganti, Gresik tersebut mengaku mengedarkan narkotika jenis sabu karena usahanya jualan ayam lagi sepi ditengah pandemi Covid-19.

Kendati baru enam bulan menjalankan bisnis barang haram. Eko tetap tergiur karena setiap kali transaksi mampu mendapatkan keuntungan yang besar. Setiap transaksi dirinya harus mengeluarkan modal Rp 5,5 juta untuk mendapatkan sabu seberat 5 gram.

Sabu tersebut selanjutnya oleh Eko diecer lagi ke pembeli. Setiap poket 0,33 gram sabu dijual seharga Rp 200 ribu. Tranksaksi dilakukan dengan sistem ranjau. Dimana, satu poket sabu dijual setelah ada kesepakatan dengan pembeli.

“Saya berjualan sabu diajari oleh Kucem di sebuah warung kopi, dia mendapat tawaran untuk bisnis narkoba karena terhimpit masalah ekonomi dia menerima tawaran tersebut,” ujarnya, Kamis (14/01/2021).

Saat digerebek petugas BNNK Gresik, sebanyak 7,2 gram sabu ditemukan ditempat tinggalnya. Selain itu, terdapat tiga pak plastik, satu timbangan elektrik, serta dua buah sendok terbuat dari sedotan, satu kartu ATM dan satu buah ponsel.

Sebelum meringkus Eko, BNNK Gresik juga mengamankan jaringan Kucem bernama
M.Khusnul Fauzi (23), warga Desa Hulaan, Kecamatan Menganti. Namun, Fauzi mengaku hanya sebagai pengguna. Dia mengkonsumsi sabu agar tubuhnya selalu bugar.

Sewaktu diringkus, Fauzi kedapatan memiliki sabu satu poket seberat 0,50 gram. Barang haram itu dibeli dari Kucem dengan sistem ranjau. “Saya konsumsi sendiri pak,” akunya.

Kepala BNNK Gresik AKBP Supriyanto menjelaskan, kedua pengedar narkoba ditangkap dihari yang sama secara maraton. Fauzi ditangkap pada Selasa (12/1) pukul 17.00 WIB, sementara Eko pukul 22.00 WIB.

Mereka sudah ditetapkan sebagai tersangka.
Dari hasil pemeriksaan, keduanya mendapat narkoba dari Kucem yang merupakan jaringan lapas. Namun, mereka mengaku tidak mengetahui dari lapas mana. “Dari pengakuannya kedua pelaku itu satu geng dengan jaringan Lapas,” kata Supriyanto.

Atas perbuatannya itu, kedua pemuda tersebut dijerat pasal 114 ayat (2) Jo pasal 112 ayat (2) UU RI No 35/2009 tentang narkotika. (dny/ted)



Apa Reaksi Anda?

Komentar