Hukum & Kriminal

BNN Kabupaten Gresik, Ringkus Pengedar 50 Ribu Pil Koplo dan Sabu untuk Kalangan Pelajar

Petugas BNN Kabupaten Gresik mengamankan tersangka pengedar 50 ribu pil koplo dan sabu khusus untuk kalangan pelajar, Jumat (12/3/2021)

Gresik (beritajatim.com)– Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Gresik, meringkus Fikri Ahmad Ramadhan (22) warga Desa Setrohadi, Kecamatan Menganti, Gresik yang kepergok mengedarkan 50 ribu pil koplo dan sabu untuk kalangan pelajar.

Selain mengamankan barang bukti pil koplo. Petugas BNN Kabupaten Gresik juga menyita 5,18 gram sabu.

Kepala BNNK Gresik AKBP Supriyanto menuturkan, penangkapan tersangka Fikri Ahmad Ramadhan berawal dari informasi masyarakat. Dari laporan itu anggota kami di lapangan menindaklanjuti adanya peredaran pil koplo dan sabu di wilayah Desa Randegansari, Kecamatan Driyorejo.

“Tersangka kami amankan di tempat kosnya. Sebelum ditangkap anggota kami terlebih dulu sudah melakukan penyelidikan selama satu bulan mengamati gerak-gerik tersangka,” tuturnya, Jumat (12/03/2021).

Masih menurut Supriyanto, dari pengakuan tersangka sewaktu menjalani pemeriksaan. Sebagian besar pembelinya dari kalangan pelajar serta orang tua. Setiap dari transaksi jual beli 20 gram sabu. Tersangka ini mendapat upah Rp 1 hingga Rp 2 juta.

“Tersangka Fikri Ahmad Ramadhan mendapatkan pil koplo dan sabu ini berasal dari rekannya yang berinisial ANS seorang bandar yang kini telah menjadi DPO,” paparnya.

Sedangkan modus yang dilakukan oleh tersangka, mengirim paket narkoba ini dengan sistem ranjau. Dimana, penjual dan pembeli terlebih dulu janjian lalu diletakkan ditempat yang telah disetujui.

“Kalau ditotal 50 ribu pil koplo ini harganya bisa mencapai Rp 35 sampai Rp 50 juta,” ujar Supriyanto.

Sebelum diamankan petugas BNNK Gresik. Tersangka Fikri Ahmad Ramadhan merupakan penjual kebab. Akibat pandemi Covid-19 dagangannya sepi lalu beralih menjadi pengedar pil koplo dan sabu.

Sementara itu, Fikri Ahmad Ramadhan mengatakan, dirinya terpaksa terjun sebagai pengedar narkoba baru tiga bulan. Profesi ini dilakukan karena kedua orang tuanya sudah bercerai. Sehingga, menjadi tulang punggung keluarga membiayai kedua adiknya yang masih bersekolah.

“Orang tua saya sudah cerai mas. Adik saya dua, yang satu masih kelas satu SMA dan satu duduk di bangku sekolah Madrasah Ibtidaiyah (MI),” katanya.

Kini Fikri Ahmad Ramadhan harus meringkuk di penjara guna mempertanggungjawabkan perbuatannya. Tersangka juga dijerat pasal 114 ayat 2 Pasal 112 ayat 2 UU nomorn35 tahun 2009 tentang narkotika dengan ancaman hukuman di atas lima tahun penjara. (dny/ted)



Apa Reaksi Anda?

Komentar