Hukum & Kriminal

BI Jatim dan Polres Gresik Ungkap Peredaran Upal Senilai Rp 58 Juta

Gresik (beritajatim.com) – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jawa Timur, dan jajaran Polres Gresik berhasil mengungkap uang palsu atau upal senilai Rp 58 juta. Dari hasil ungkap ini, polisi juga mengamankan empat tersangka.

Keempat tersangka itu, masing-masing Arief Aryuanda Suharso (25), Eko Sukarno (50) keduanya asal Desa Bakalan, Kecamatan Balongbendo, Sidoarjo. Dari tangan kedua tersangka itu, polisi juga menyita upal Rp 19 juta dan Rp 13 juta, satu buah ponsel, dan satu buah rokok dan tiga mie instan.

Sementara kedua tersangka lainnya yakni M.Nazamudin Arief (48) asal Desa Pucanganom, Kecamatan Kebonsari,
Kabupaten Madiun dan Cahyo Widodo (49) asal Desa Bulusari, Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri. Dari kedua tersangka tersebut, polisi menyita upal senilai Rp 14 juta dan Rp 12 juta serta dua unit mobil, dua mesin printer, satu alat sablon, dan 12 screen pembuat logo uang palsu.

“Terungkapnya kasus ini bermula dari informasi masyarakat yang bernama Akhmad pemilik toko asal Desa Cangkir, Kecamatan Driyorejo, Gresik, yang mendapatkan ada seseorang belanja dengan uang palsu. Dari situ kasus ini dikembangkan lalu anggota di lapangan mengamankan satu pelaku atas nama Arief Aryuanda Sukarno,” ujar Kapolres Gresik AKBP Arief Fitrianto, Selasa (16/06/2020).

Usai menjalani penyelidikan, lanjut Arief Fitrianto, kasus ini dikembangkan dan mengarah ke Eko Sukarno yang merupakan ayah dari Arief Aryuanda Sukarno. Saat diamankan, tersangka Eko Sukarno mengaku membeli upal ini dari Nazamudin Arief di daerah Kabupaten Madiun.

“Dari pengembangan itu, kami memburu tersangka Cahyo Widodo sebagai yang memproduksi upal. Dari tangan tersangka, anggota di lapangan mengamankan mesin printer, alat sablon dan uang palsu senilai Rp 12 juta,” ungkapnya.

Masih menurut Arief Fitrianto, tersangka yang membuat upal itu sudah menjalaninya sejak tahun 2017. Sehingga, ada Rp 200 juta hasil dari produksi upal tersebut beredar di masyarakat. “Kami menghimbau kepada masyarakat agar berhati-hati melakukan transaksi jual beli dengan cara 3D. Yakni, diterawang, diraba, dan dilihat,” paparnya.

Kepala Sistem Pembayaran Bank Indonesia Jawa Timur, Abrar mengapresiasi tindakan yang dilakukan Polres Gresik. “Kami sangat mengapresiasi ungkap kasus yang dilakukan Polres Gresik. Terkait dengan kasus ini, berdasarkan statistik Bank Indonesia ada 13 ribu lembar uang palsu dengan pecahan Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu beredar di masyarakat. Karena itu, jangan lupa melakukan 3D serta melakukan transaksi non tunai agar lebih aman,” ujarnya.

Sementara itu, Cahyo Widodo salah satu tersangka pembuat upal mengaku dirinya bisa membuat uang ini belajar dari medsos. “Cara membuatnya saya melihat medsos lalu kami praktekan,” katanya.

Atas dasar itu, keempat tersangka itu mini mendekam di penjara untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Tersangka tersebut juga dijerat UU RI nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang dengan ancaman 15 tahun penjara dan denda Rp 50 miliar. [dny/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar