Hukum & Kriminal

Berkas Pendeta yang Terjerat Kasus Pencabulan Masuk Kejaksaan

Surabaya (beritajatim.com) – Berkas perkara kasus pencabulan dengan tersangka Pendeta HL telah masuk Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur. Informasi itu disampaikan Kasi Penkum Richard Marpaung, Senin (23/3/2020).

Richrad menyatakan, pihaknya mempunyai waktu dua pekan ke depan untuk meneliti berkas. Apakah mengembalikan berkas dengan memberikan petunjuk pada penyidik ataukah menyatakan berkas lengkap atau P21.

“Berkasnya diterima minggu lalu, ini masih kita teliti,” ujarnya.

Sementara tim kuasa hukum tersangka yakni Jeffry Simatupang mengapresiasi dan menghormati apa yang telah dilakulan Polda Jatim. Namun pihaknya meyakini bahwa akan ada petunjuk JPU (P19) mengenai periode waktu terjadinya dugaan pencabulan, karena untuk membuktikan kapan dan sampai kapan terjadinya dugaan tindak pidana pencabulan tersebut diperlukan bukti yang kuat bukan hanya berdasarkan keterangan korban. Apalagi jika melihat pemberitaan media dimana periode waktu terjadinya tindak pidana telah beberapa kali diralat oleh pihak Polda Jatim yang semakin membuat pihaknya yakin bahwa membuktikan periode terjadinya tindak pidana sangat sulit.

“Hal ini berkaitan mengenai apakah dugaan tindak pidana ini telah kedaluwarsa atau tidak maka harus dibuktikan periode waktu terjadi sejak dan sampai kapan,” ujarnya.

Selain itu, Jefrry menyebut petunjuk untuk mencari alat bukti lain, jika melihat dari pemberitaan alat bukti yang digunakan adalah alat bukti petunjuk dan keterangan tersangka serta alat bukti saksi.

“Yang kami ingin sampaikan adalah alat bukti petunjuk hanya bisa diperoleh di persidangan bukan pada saat penyidikan, kemudian mengenai keterangan tersangka bukanlah merupakan alat bukti karena berdasarkan Pasal 184 KUHAP yang termasuk alat bukti adalah keterangan terdakwa bukan keterangan tersangka, sehingga jika demikian alat bukti yang dimiliki hanya keterangan saksi saja. Sedangkan untuk menyatakan seorang bersalah melakukan tindak pidana harus berdasarkan 2 alat bukti yang sah,” bebernya.

Jeffry menambahkan, kalaupun jika memang berkas tersebut dinyatakan lengkap (p21) pihaknya siap untuk menghadapi untuk menguji apakah ada 2 alat bukti yang sah yang menunjukkan adanya tindak pidana, karena beban pembuktian berada di JPU.

“Kami memohon kepada yang mulia Majelis Hakim yang nantinya memeriksa perkara dugaan tindak pidana pencabulan ini dapat mengedepankan kebenaran materiil berdasarkan alat bukti yang sah, bukan semata mata berdasarkan opini yang seakan akan klien kami sudah bersalah. Kami mohon kepada masyarakat untuk mengawal kasus ini, sehingga kebenaran dan keadilan bisa terwujud,” ujarnya.

Perlu diketahui, Pendeta HL ditetapkan tersangka karena diduga melakukan pencabulan terhadap anak angkatnya sendiri. [uci/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar