Hukum & Kriminal

Berkas Lengkap, Kepala Disperpusip Kabupaten Mojokerto Tak Ditahan

Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip (Disperpusip) Kabupaten Mojokerto, Ustadzi Rois. [Foto: dok]

Mojokerto (beritajatim.com) – Kasus dugaan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang menjerat Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip (Disperpusip) Kabupaten Mojokerto, Ustadzi Rois, dinyatakan lengkap oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Mojokerto. Namun yang bersangkutan tak ditahan karena dianggap kooperatif dan pasal yang menjeratnya sangat ringan.

Jaksa Penuntut Umum (JPU), Ivan Yoko membenarkan hal tersebut. Polres Mojokerto menyerahkan seluruh dokumen pemeriksaan dan tersangka ke Kejari Kabupaten Mojokerto pada, Senin (17/2/2020). Tersangka menjalani pemeriksaan selama satu jam, namun tak ditahan.

“Yang bersangkutan tak ditahan karena pasal yang menjeratnya terlalu ringan. Yakni Pasal 49 juncto Pasal 45 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga dengan ancaman 3 tahun dana denda Rp9 juta,” ungkapnya, Selasa (18/2/2020).

Masih kata Kasi Barang Bukti (BB) ini, dengan rampungnya pemeriksaan kasus tersebut di tingkat kepolisian, maka dalam waktu dekat, jaksa akan segera menyeret kasus mantan Camat Sooko tersebut ke meja pengadilan.

Kasat Reskrim Polres Mojokerto, AKP Dewa Putu Prima membenarkan bahwa berkas Ustadzi Rois yang ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus KDRT sejak Agustus 2019 ini sudah diserahkan ke Kejari Kabupaten Mojokerto. “Iya sudah P21 dan sudah dikirim ke Kajari berkasnya. Yang bersangkutan dilaporkan istrinya tidak dinafkahi dan mengalami kekerasan psikis,” tambahnya.

Sebelumnya, Ustadzi Rois ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus KDRT sejak Agustus 2019. Penetapan tersangka setelah pihak Polres Mojokerto menggelar gelar perkara dan tersangka diduga terbukti melakukan tindakan penelantaran dan kekerasan fisik maupun psikis. Sedikitnya, ada lima alat bukti yang sesuai dengan pasal 184 KUHAP.

Lima alat bukti tersebut yakni keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk dan keterangan tersangka. Ustadzi Rois dijerat pasal 45 dan 49 ayat 2 UU RI Nomor 23 Tahun 2004 tentang KDRT dengan ancaman maksimal 3 tahun penjara atau denda paling banyak Rp 9 juta.

Penetapan tersangka ini bermula dari laporan Sunarti, isteri Rois ke Polres Mojokerto awal Januari 2019. Sunarti diketahui sebagai hakim di Pengadilan Negeri (PN) Pamekasan, Madura ini mengaku, tak pernah mendapatkan nafkah lahir dan batin sejak Agustus 2018. Selain itu, sikap Rois dinilai sangat kasar sehingga mengakibatkan tekanan mental. [tin/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar