Hukum & Kriminal

Berbelit-belit, Jaksa Tuntut Henry J Gunawan 3,5 Tahun

Surabaya (beritajatim.com) – Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ali Prakoso menuntut 3,5 tahun pada Henry J Gunawan, terdakwa kasus keterangan palsu pada akta otentik. Selain dianggap terbukti memenuhi unsur sebagaimana dalam pasal 266 ayat (1) KUHP jo) pasal 55 ayat (1) KUHP, sikap berbelit-belit bos PT. Gala Bumi Perkasa (GBP) selama persidangan juga dijadikan alasan memberatkan oleh Jaksa.

Sementara sang isteri yakni Iuneke Anggraini bernasib lebih beruntung, dia dituntut lebih ringan dari Henry yakni dua tahun penjara. Dalam tuntutannya, JPU Ali Prakosa menyatakan bahwa perbuatan Henry dan Iuneke telah memenuhi unsur barangsiapa menyuruh memasukkan keterangan palsu ke dalam suatu akta otentik mengenai suatu hal yang kebenarannya harus dinyatakan oleh akta itu, dengan maksud untuk memakai atau menyuruh orang lain memakai akta itu seloah-olah keterangan itu sesuai dengan kebenarannya.

“Menuntut dengan pidana penjara 3 tahun dan 6 bulan kepada Henry J Gunawan, dan 2 tahun kepada Iuneke Anggraini,” tutur Jaksa Ali Prakosa di ruang sidang Garuda 1 PN Surabaya, Kamis (12/12/2019). “Yang meringankan, terdakwa 1 Henry Jocosity Gunawan tulang punggung keluarga dan terdakwa 2 Iuneke Anggraini belum pernah dihukum,” tandas Ali Prakosa.

Atas tuntutan tersebut, kedua terdakwa melalui tim penasehat hukumnya mengaku akan mengajukan pembelaan atau pledoi. “Ya, kita sepakati hari Selasa (17/12/2019) pembacaan pembelaan dan pada hari Kamis (19/12/2019) sidang vonis. Saya tidak bisa tundah-tundah lagi, sebab saya sudah ditegur,” kata Dwi Purwadi, ketua majelis hakim.

Untuk diketahui, perkara keterangan pernikahan palsu ini dimulai pada Juli 2010 ketika Henry J Gunawan dan Iuneke Anggraini mengaku sebagai pasangan suami istri (Pasutri) saat membuat 2 akta perjanjian pengakuan hutang dan personal guarantee.

Namun faktanya, mereka baru resmi menikah secara agama Budha di Vihara Buddhayana Surabaya pada 8 November 2011. Kedua pasangan itu dinikahkan oleh pendeta Shakaya Putra Soemarno Sapoetra serta baru dicatat di Dispenduk Capil pada 9 November 2011.

Sebelum kasus ini, Henry J Gunawan juga pernah tersandung beberapa perkara yakni, pada 16 April 2018, Henry divonis percobaan oleh hakim PN Surabaya atas kasus tipu gelap jual beli tanah di Celaket, Malang yang dilaporkan oleh Notaris Caroline C Kalempung. Namun vonis percobaan itu dianulir oleh hakim kasasi di Mahkamah Agung (MA) dengan menjatuhkan putusan 1 tahun penjara.

Pada 4 Oktober 2018, Henry kembali dihukum bersalah atas kasus penipuan terhadap pedagang Pasar Turi terkait proses jual beli stand. Dalam kasus ini, Henry divonis 2,5 tahun penjara oleh hakim PN Surabaya.

Tak lama kemudian, Pada 19 Desember 2018, PN Surabaya menjatuhkan hukuman 2 tahun dan 6 bulan penjara terhadap Henry karena terbukti melakukan penipuan terhadap tiga rekan bisnisnya yang merupakan kongsi pembangunan dan pengelolaan Pasar Turi. [uci/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar