Hukum & Kriminal

Begini Modus Kejahatan 3 Tersangka Investasi Bodong Penggemukan Sapi Perah

Para tersangka saat ditanyai oleh Kapolres Ponorogo AKBP. Arief Fitrianto.(foto : Endra Dwiono)

Ponorogo (beritajatim.com) – Tertangkapnya Galih Kusuma (40), salah satu dari tiga tersangka investasi bodong penggemukan sapi perah, seperti membuka kotak pandora dari CV Tri Manunggal Jaya (TMJ). Ide investasi bodong penggemukan sapi perah ini berawal pertemuan para tersangka, yakni Hadi Suwito, Arie Setiawan dan Galih Kusuma pada tahun 2016, di sebuah warung nasi goreng di Jalan Menur No. 70 Ponorogo.

“Ide investasi dari Galih Kusuma ini disambut baik oleh Hadi Suwito dan Ari Setiawan. Kedua tersangka ini akhirnya berhasil mencari mitra pertama kali dengan uang sebesar Rp 10 juta,” kata Kapolres Ponorogo, Selasa (3/3/2020).

Uang dari mitra itu digunakan untuk pembuatan rekening, pembuatan akta notaris serta izin-izin lainnya, dengan usaha diberi nama CV Tri Manunggal Jaya (TMJ). Hadi Suwito didapuk menjadi direktur, Arie Setiawan sebagai bendahara CV TMJ. Sedangkan Galih Kusuma sebagai operator programer yang bekerja dibalik layar. Selanjutnya untuk memperkenalkan usaha dari CV TMJ itu, selain dari relasi ketiga tersangka, mereka mengiklankan ke media sosial bahkan radio.

“Akhirnya usaha itu semakin berkembang dan semakin banyak mitra yang bergabung,” kata Arief.

Untuk meyakinkan mitra, Galih Kusuma alias Ibrahim ini membuat beberapa dokumen, walaupun kenyataannya dokumen tersebut fiktif. Dokumen tersebut antara lain, izin usaha dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan MoU dengan pabrik susu ternama. Selain itu mitra ditunjukkan kandang produksi fiktif di wilayah Desa Tegalsari Kecamatan Jetis dan Rejotangan Tulungagung.

“Paket investasi yang ditawarkan selalu naik setiap tahun, dari tahun 2016 sebesar Rp 10 juta per paket, hingga tahun 2019 menjadi Rp 19 juta per paket,” ungkapnya.

Modus kejahatan yang dilakukan oleh ketiga tersangka adalah menyampaikan kepada mitra, jika uang yang diserahkan akan dibelikan sapi perah. Lalu sapi tersebut dipelihara di kandang produksi. Susu perah yang dihasilkan dijual kepada pabrik susu ternama yang sudah bekerjasama dengan CV TMJ. Serta hasil penjualan susu sebagian diserahkan kepada mitra sebagai provit.

Di awal CV TMJ menyampaikan kepada mitra jika hasil investasi sapi perah itu diwujudkan dalam bentuk provit. Yang dibayarkan setiap bulan sekali melalui transfer ke rekening mitra.

“Namun faktanya semua fiktif, provit yang diberikan kepada mitra itu adalah uang dari mitra itu sendiri yang diputar oleh ketiga tersangka,” pungkasnya. [end/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar