Iklan Banner Sukun
Hukum & Kriminal

Banyak Rutan di Jatim Overkapasitas, Kemenkum HAM Optimalkan Fungsi Pelayanan

Surabaya (beritajatim.com) – Banyak rumah tahanan (rutan) di Jawa Timur yang berstatus Overkapasitas. Dampaknya, fungsi pelayanan terhadap tahanan jadi terganggu.

Salah satu contohnya adalah Rutan Situbondo yang dihuni 290 jiwa dengan 70 persen di antaranya berstatus narapidana. Idealnya, rutan dihuni oleh tahanan yang masih menjalani proses hukum.

“Padahal pola pelayanan dan pembinaan kepada tahanan dan narapidana itu berbeda,” ujar Wamenkumham, Edward Omar Sharif Hiariej saat mengunjungi Rutan Situbondo, ditulis Sabtu (23/4/2022)

Eddy, sapaan akrabnya, menyatakan kondisi di Rutan Situbondo masih belum ideal. Meski tingkat overkapasitas di Rutan Situbondo relatif rendah, mayoritas penghuninya berstatus narapidana.

“Namanya rutan itu harusnya diisi para tahanan yang sedang menjalani proses pidana. Sedangkan lapas adalah pembinaan setelah putusan,” urainya.

Eddy yang didampingi Plt Kakanwil Kemenkumham Jatim Wisnu Nugroho Dewanto menyebutkan salah satu tujuannya melakukan kunjungan kerja ke Rutan Situbondo untuk memastikan pelayanan publik berjalan dengan baik.

Alasannya, risiko terjadinya masalah di rutan cukup besar. Apalagi jika antara anggaran yang ada tidak bisa menjawab kebutuhan di lapangan.

“Masalah ini selalu memiliki dampak yang harus diminimalisir sedini mungkin, kami sedang bahas agar segera ada solusi,” tegas Eddy.

Sementara, Wisnu yang juga menjabat Kepala Biro Keuangan Kemenkumham menjelaskan saat ini ada teknis dan prosedur yang tidak memungkinkan memasukkan anggaran pembinaan narapidana ke rutan. Untuk itu, pihaknya telah menjalin komunikasi dengan Kementerian Keuangan agar ada kebijakan untuk memberikan diskresi.

“Tentunya kami berharap para warga binaan mendapatkan pelayanan dan pembinaan sesuai dengan status pidana yang diterimanya,” urainya.

Pada kunjungan kerjanya kali ini, Wamenkumham juga mengapresiasi kegiatan pembasuhan kaki ibunda oleh WBP. Menurutnya, kegiatan semacam ini perlu dilakukan secara rutin. Tidak hanya digelar saat momen hari kartini saja. Tapi di momen-momen keagamaan.

“Jadi ini penting untuk mengingatkan WBP agar punya keinginan untuk kembali ke rumah dan bersimpuh di hadapan ibunya,” terang Prof Eddy. [uci/beq]


Apa Reaksi Anda?

Komentar