Hukum & Kriminal

Bantah Bunuh Anggota Fatayat NU Kediri, Sugeng Ajukan Banding

Kediri (beritajatim.com) – Terpidana kasus pembunuhan anggota Fatayat NU Badas, Kabupaten Kediri, Sugeng Riyadi mengajukan upaya hukum bading atas vonis 14 tahun penjara yang diterimanya. Pria asal Pare, Kabupaten Kediri ini membantah telah membunuh korban.

Upaya hukum banding diajukan oleh Tim Kuasa Hukum Sugeng Riyadi ke Pengadilan Tinggi Jawa Timur, melalui Pengadilan Negeri Kabupaten Kediri. Banding ditempuh terpidana karena dirinya ingin mencari keadilan bukan sebagai pembunuh Binti Nafiah.

“Kami tim kuasa hukum dari bapak Sugeng Riyadi menuju ke PN Kabupaten Kediri menyatakan banding terhadap putusan perkara nomor 344. Dimana, terdakwa diputus 14 tahun. Kita baru saja ke Lapas bertemu dengan pak Sugeng. Kita menyatakan sekali lagi, bapak mau banding atau seperti apa? dari pak Sugeng menyatakan saya mau banding, karena saya tidak melakukan,” kata Rudy Bing Adiputra, kuasa hukum Sugeng Riyadi.

Tim kuasa hukum ini terdiri dari lima orang penasihat hukum. Mereka, Rudy Bing Adiputra, Wijono, Hariyono, Taufiq Dwi Kusuma dan R. Maredian Agyl Jatikusuma. Atas dasar kepedulian terhadap penegakan hukum, sederet pengacara ini tergerak hati untuk membantu terpidana dalam mencari keadilan secara gratis atau dalam bahasa hukumnya Prodeo.

Melalui kuasa hukumnya, Sugeng Riyadi mengaku, saat peristiwa terjadi pada Juni 2018 lalu, Sugeng Riyadi sedang bekerja di sebuah proyek pembangunan di Kabupaten Gresik. Dia sebagai tukang bangunan tengah ditugaskan oleh perusahaan untuk menjaga lokasi proyek.

“Dari keluarga juga ada hadir disni. Keluarga minta bantuan kami untuk mendampingi proses banding. Alasan yang mendasarkan karena tidak sesuai fakta. Dimana pada tanggal kejadian tersebut, pak Sugeng bekerja di Gresik, pak Sugeng tidak ada di lokasi kejadian. Ada surat pernyataan dari bosnya pak Sugeng (seorang kontraktor) membuat pernyataan terbuat asli, pak Sugeng menjaga lokasi Proyek tidak di Kediri,” imbuh Rudy.

Selain itu, Tim Kuasa Hukum  menyebut adanya ketidak sesuaian keterangan ahli dan fakta di lapangan terkait penggunaan alat untuk melumpuhkan korban saat itu. Sugeng pun terlihat bingung saat melakukan rekonstruksi di kediaman Binti Nafiah di Canggu, Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri akhir Juli 2019 lalu.

“Saksi ahli juga menyatakan, itu saksi ahli yang melakukan visum bahwa alat yang digunakan adalah balok kayu bukan besi. Kemudian pihak JPU menghadirkan saksi lain dari Rumah Sakit Bhayangkara kediri, saksi tersebut menyatakan besi. Maka, aneh tidak ada kesesuaian antara saksi ahli dan saksi visum. Harsnya yang diberatkan saksi visum,” beber Rudy merasa aneh.

Lalu ketika ditanya keterangan Sugeng Riyadi dalam BAP? Tim Kuasa Hukum menyatakan, apabila terpidana mengakui karena keterpaksaan dan adanya unsur dugaan intimidasi. “Jelas pada saat rekonstruksi dia kebingungan, pada saat itu bukan kami yang mendampingi,”  terangnya.

Terpisah, Adiono, kakak Sugeng Riyadi berharap, melalui banding ke Pengadilan Tinggi Jawa Timur adiknya mendapatkan keadilan. Dirinya meyakini bahwa sang adik tidak bersalah. “Saya yakin, dia bukan sebagai pelaku. Dia berani bersumpah kalua tidak melakukan perbuatan itu. Harapan kami dia bias dibebaskan,” pinta Adiono dengan mata berkaca-kaca.

Dijelaskan Adiono apabila seluruh keluarga shock mengetahui vonis 14 tahun penjara terhadap Sugeng Riyadi. Terlebih sang istri. Terpidana memiliki satu orang anak. Dimana, buah hatinya tersebut kondisi cacat bawaan. Mereka berharap agar majelis hakim yang mengadili dalam persidangan di tingkat Jawa Timur terbuka mata dan hatinya dan membebaskan tepidana.

Sebelumnya, majelis hakim pengadilan negeri kabupaten kediri menjatuhi vonis 14 tahun penjara. Terpidana dinyatakan bersama melanggar pasal 365 KUHP tentang pencurian pemberatan yang mengakibatkan korban meninggal dunia. Putusan ini lebih ringan dari tuntutan JPU 15 tahun penjara. Sementara Sugeng Riyadi sendiri ditangkap setelah setahun kasus ini berlalu atas kasus pencurian di lokasi yang berbeda. [nng]





Apa Reaksi Anda?

Komentar