Hukum & Kriminal

Bangun Tambang Nikel di Morowali Sulteng Berujung ke Pengadilan Negeri Surabaya

Surabaya (beritajatim.com) – Empat pemuda dari wilayah Kota Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur ini awalnya bersepakat untuk membangun bisnis tambang nikel, namun naas akhirnya bisnis yang mereka rintis tersebut berujung pada permasalahan hukum.

Empat pemuda tersebut adalah CM, PHK , Mohammad Genta Putra dan CH yang kemudian mendirikan PT CIM sebuah perusahaan penerima hak eksklusif dari PT TDU sebagai pemegang izin usaha pertambangan operasi produksi (IUP OP).

Usaha pertambangan tersebut dilakukan di Desa Ganda Ganda, Kecamatan Petasia, Kabupaten Marowali Utara, Sulawesi Tengah.

Adalah CH, yang kini justru duduk sebagai terdakwa di Pengadilan Negeri Surabaya. Dalam proses persidangan yang masih bergulir dipimpin Ketua Majelis Hakim Tumpal Sagala SH itu, dia didakwa Pasal 378 dan 372 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) tentang penipuan dan penggelapan.

Pelapornya adalah CM, salah satu teman kongsinya.

Teman kongsi lainnya, Mohammad Genta Putra, mengisahkan, investasi tambang nikel di Marowali Utara itu semula memang ide dari terdakwa Christian Halim.

“Dia ngaku punya paman berinisial H yang ahli di bidang pertambangan,” kata Genta kepada wartawan di Surabaya, Senin (8/3/2021).

Terdakwa CM kemudian melakukan pemaparan bahwa tambang nikel di Marowali Utara bisa menghasilkan sebanyak 100 ribu matrik, yang artinya sebulan bisa menghasilkan Rp 20 miliar lebih.

“Dia minta investasi sebesar Rp 20,5 miliar untuk membangun infrastrukur tambang di Marowali Utara. Kami setujui dan dikucurkan dalam sembilan tahap,” ucap Genta.

Namun, dia menandaskan, keuntungan dari hasil tambang nikel yang dijanjikan terdakwa CM sampai hari ini tidak pernah terealisasi. Dari semula menyatakan mampu menghasilkan 100 ribu matrik perbulan hanya terealisasi 17 ribu matrik.

“CM sebenarnya teman kami. Dengan cuma melakukan paparan kami percaya untuk kemudian bersama-sama investasi tambang nikel. Malah jadi teman makan teman akhirnya,” katanya.

Dalam dakwaan yang disusun Jaksa Penuntut Umum Novan Arianto dan Sabetania Paembonan dari Kejaksaan Tinggi Jawa Timur menyebut selisih keuntungan yang dijanjikan terdakwa Christian mencapai Rp 9,3 miliar. [uci/ted]



Apa Reaksi Anda?

Komentar