Hukum & Kriminal

Anggota BPK RI Rizal Djalil Diduga Terima 100 Ribu Dolar AS

Jakarta (beritajatim.com) – Anggota Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK-RI) Rizal Djalil (RIZ) menjadi tersangka dalam pengembangan perkara Dugaan Suap Terkait Proyek Pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Tahun Anggaran 2017-2018. Rizal diduga menerima uang sebanyak 100 ribu dolar atau sekitar Rp 1,3 miliar terkait pemeriksaan pada Direktorat SPAM Kementerian PUPR.

Wakil Ketua KPK Saut Situmorang memaparkan, pada Oktober 2016, BPK RI melakukan Pemeriksaan pada Direktorat SPAM Kementerian PUPR sebagaimana tertuang dalam Surat Tugas BPK-RI tertanggal 21 Oktober 2016. Surat ditandatangani oleh tersangka Rizal dalam kapasitas sebagai Anggota IV BPK-RI. Surat tugas adalah untuk melaksanakan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan Infrastruktur Air Minum dan Sanitasi Air Limbah pada Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian PUPR dan Instansi Terkait Tahun 2014, 2015 dan 2016 di Provinsi DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, dan Jambi.

“Awalnya diduga temuan dari pemeriksaan tersebut adalah sebesar Rp18 miliar namun kemudian berubah menjadi sekitar Rp4,2 miliar,” kata Saut.

Sebelumnya, Saut menyebut, Direktur SPAM mendapatkan pesan adanya permintaan uang terkait pemeriksaan yang dilakukan oleh BPK-RI tersebut, yaitu sebesar Rp2,3 Miliar. Tersangka Rizal diduga pernah memanggil Direktur SPAM ke kantornya, kemudian menyampaikan akan ada pihak yang mewakilinya untuk bertemu dengan Direktur SPAM.

Selanjutnya perwakilan Rizal datang ke Direktur SPAM dan menyampaikan ingin ikut serta dalam pelaksanaan/kegiatan proyek di lingkungan Direktorat SPAM. Proyek yang diminati adalah proyek SPAM Jaringan Distribusi Utama (JDU) Hongaria dengan pagu anggaran Rp79,27 Miliar.

Kemudian proyek SPAM JDU Hongaria tersebut dikerjakan oleh PT. Minarta Dutahutama. Dalam perusahaan ini, tersangka Leonardo Jusminarta Prasetyo (LJP) berposisi sebagai Komisaris Utama.

Kemudian, sekitar tahun 2015/2016 tersangka LJP diperkenalkan kepada RIZ di Bali oleh seorang perantara. LJP memperkenalkan diri sebagai kontraktor proyek di Kementerian PUPR. Melalui seorang perantara, LJP menyampaikan akan menyerahkan uang Rp1,3 miliar dalam bentuk Dolar Singapura untuk RIZ melalui pihak lain.

“Uang tersebut pada akhirnya diserahkan pada Rizal melalui salah satu pihak keluarga yaitu sejumlah SGD100,000 dalam pecahan SGD1.000 atau 100 lembar di parkiran sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan,” kata Saut. [hen/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar