Hukum & Kriminal

AKP Ruth: Pelaku Predator Anak Lebih Tertarik Korban Masih SMP

AKP Ruth Yeni, Kanit PPA Polrestabes Surabaya

Surabaya(beritajatim.com) – Kasus pencabulan dan pemerkosaan terhadap anak yang dilaporkan ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Surabaya meningkat.

Peningkatan itu diketahui sejak bulan November 2019.

Hanya saja, para pelaku predator ini lebih menyasar korban yang masih duduk di bangku SMP. Hal tersebut dikarenakan korban masih takut, baru mengenal dunia reproduksi manusia dan banyak yang merasakan butuh perhatian.

“Karena secara psikologis anak SMP baru tumbuh dewasa. Sehingga mereka membutuhkan perhatian dari orangtua dan jika tak dapat maka akan lari ke lingkungannya. Jadi sebagai orangtua harusnya lebih peka akan pertumbuhan anak terutama wanita,” papar Kanit PPA AKP Ruth Yeni kepada beritajatim.com, Minggu (29/12/2019).

Karena takut dan merasakan psikologis yang petumbuhan kedewasaan, maka perempuan dalam usai SMP ini rentan jadi korban pencabulan.

Terlebih, lanjut AKP Ruth, anak SMP saat diancam lebih merasakan takut dan memilih untuk diam.

“Untuk angka kasusnya belum terinci secara detail. Tapi cukup banyak juga kasus anak SMP yang jadi korban pencabulan oleh pelaku predator anak ini,” tandasnya.

Sementara dalam pelaporan kasus pencabulan di Kota Surabaya lanjut AKP Ruth, selama 2018 Unit PPA menerima sebanyak 32 laporan. Sedangkan pada November 2019 ini sudah menerima 36 laporan kasus.

“Sampai dengan November 2019 angka meningkat dibandingkan tahun lalu 2018,” bebernya.

Menurut Ruth, ada sejumlah faktor yang membuat tingginya laporan yang masuk. Salah satu faktor itu yakni masyarakat sudah mulai sadar hukum.

“Salah satunya meningkatnya kesadaran masyarakat untuk lapor,” tambah Ruth.

Sedangkan untuk tindakan pencegahan, Ruth mengimbau agar seluruh unsur ikut bertanggungjawab untuk menjaga anak. Terutama pada lingkungan sekitarnya.

“Semua unsur, orang tua, masyarakat, pemerintah melakukan tugas bagian tanggung jawabnya untuk menjaga anak yang berada di lingkungannya,” imbaunya.

Mengambil peran menjadi orang tua bagi semua anak di lingkungan kita, sebagai upaya preventif menghindarkan anak sebagai korban atau peluang sebagai pelaku,” tambah Ruth.

Ia juga mengimbau khusus kepada para orang tua untuk selalu mengontrol penggunaan gadget. Tak hanya itu, orang tua harus memastikan keberadaan anak saat tidak bersama.

“Kontrol dan kendalikan keberadaan anak saat tidak bersama ortu. Kontrol penggunaaan gadget anak,” tandasnya.(man/ted)






Apa Reaksi Anda?

Komentar