Hukum & Kriminal

Akibat Harta Gono-gini, Pemilik Sardo Swalayan Dilaporkan Mantan Istrinya

Tatik Suwartiatun dan Kuasa hukum, Heli melaporkan Imron Rosyadi pemilik Sardo Swalayan ke Polda Jatim.

Malang(beritajatim.com) – Pemilik Sardo Swalayan, Imron Rosyadi (63 tahun) dilaporkan oleh mantan istrinya, Tatik Suwartiatun (58 tahun) ke Polda Jawa Timur. Dia dilaporkan atas dugaan keterangan palsu harta gono gini senilai Rp 52 miliar, tidak hanya Imron, beberapa kerabatnya juga turut dilaporkan dengan perkara yang sama.

Kuasa hukum pelapor, Heli mengatakan ada dua berkas laporan yang diajukan ke Polda Jatim. Laporan pertama diajukan pada (4/9/2020) dengan terlapor Na dan Ba. Laporan itu bernomor LP-B/698/IX/RES.1.9/2020/UM/SPKT Polda Jatim.

Laporan kedua diajukan pada (23/9/2020) dengan terlapor Imron Rosyadi, Ch dan Fa. Berkas laporan itu bernomor LP-B/741/IX/RES.1.9/2020/UM/SPKT Polda Jatim.

“Laporan atas dugaan pemberian keterangan palsu. Harta gono gini selama perkawinan diklaim oleh mantan suami pelapor serta kerabat mantan suaminya. Harta gono gini itu berupa aset usaha Sardo Swalayan yang ada di Kota Malang dan Pandaan, Kabupaten Pasuruan yang menjadi hak klien kami senilai Rp52 miliar separuh dari total aset,” kata Heli, Senin, (9/11/2020).

Heli mengatakan awal permasalahan terjadi saat ketika kliennya dan Imron bercerai pada 2009. Imron dan Tatik menikah pada 1988. Dalam perjalanan pernikahan itu, tepatnya 1995 Imron dan Tatik membeli tanah kosong seluas 261 M2 di Jalan Gajayana No 500. Setelah itu buka usaha Swalayan dengan nama Sardo Malang.

Usaha itu berkembang pesat sampai swalayan Sardo menjadi lebih besar. Bahkan melalui bisnis ini mereka juga membeli tanah untuk mendirikan Sardo Swalayan di Pandaan, Pasuruan. Kemudian rumah tangga mereka retak dan berpisah. Setelah perceraian Tatik mengira semua aset yang dimiliki akan diberikan kepada dua anaknya.

“Karena tidak ada niat baik dari mantan suaminya, maka klien kami mencari keadilan untuk mengambil yang seharusnya menjadi haknya dengan melaporkan perkara ini ke Polda Jatim,” ujar Heli.

Tatik Suwartiatun mengatakan, sejak awal pengelolaan swalayan itu dilakukannya sendiri. Tanpa campur tangan dari kerabat suaminya. Tatik menuturkan setelah membeli tanah pada tahun 1995. Lalu pada tahun 1997 dibangun bangunan satu lantai di atas tanah tersebut.

Pada tahun 2000, Tatik mengaku mendapat pinjaman modal dari lembaga keuangan modal Ventura. Uang dari hasil pinjaman itu lantas dikelola untuk membangun Sardo Swalayan. Bahkan di awal-awal usaha dia mengaku keliling untuk mencari perusahaan yang mau menaruh barang di swalayan Sardo sebelum berkembang pesat.

“Semua saya lakukan sendiri. Awalnya saya mencari barang di area Jawa Timur dengan karyawan sopir dan kernet. Saya naik truk mencari barang. Tahun 2003 kita sewa tanah sebelah, lalu pada tahun 2004 kita bisa beli tanah itu. Tahun 2004 juga kredit kita di Jatim Ventura lunas. Setelah cerai saya kaget, ketika ada akta kesepakatan yang menyatakan bahwa Sardo Swalayan diklaim Imron dan kerabatnya,” tutur Tatik.

Sementara itu, Imron Rosyadi membantah jika tanah yang kini menjadi Sardo Swalayan hasil pembelian saat mereka jadi pasangan suami istri. Tanah itu, dibeli hasil jual tanah dan toko mebel di Pasuruan milik ibu Maryam atau keluarga Imron. Sehingga menurut pasal 35 dan 36 Undang-undang nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan merupakan harta bawaan suami dan menjadi kewenangan suami.

“Versi Tatik kan dianggap gono gini padahal tanah itu dibeli oleh keluarga dari hasil jual tanah dan toko mebel di Pasuruan milik ibu Maryam. Tatik tidak dapat membuktikan hak kepemilikan sardo sehingga gugatan perlawanan ditolak dan Tatik banding ditolak dan sekarang kasasi belum memperoleh putusan MA,” tandas Imron. (luc/ted)





Apa Reaksi Anda?

Komentar