Hukum & Kriminal

Ahli Nyatakan Perbuatan Cristian Halim Masuk Ranah Keperdataan

Dr. Ghansham Anand,SH.,M.Kn (ahli Spesialisasi hukum perdata khususnya hukum perikatan).

Surabaya (beritajatim.com) – Setelah Jaksa Penuntut Umum (JPU) Novan Arianto dan Sabetania tuntas mendatangkan saksi fakta dan juga ahli, giliran pihak terdakwa Christian Halim yang diberikan kesempatan majelis hakim yang diketuai Made Purnami untuk mendatangkan saksi adecharge (meringankan) dan juga ahli.

Ada tiga saksi yang didatangkan kuasa hukum Terdakwa yakni Jaka Maulana dalam sidang lanjutan kasus penipuan tambang nikel di ruang Candra Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Kamis (1/4/2021).

Tiga saksi tersebut adalah dua saksi meringankan dan satu ahli. Mereka adalah Bimantara Agung Prawoto, saksi kedua Indra Alfiandi dan ahli bernama Dr. Ghansham Anand,SH.,M.Kn ( ahli Spesialisasi hukum perdata khususnya hukum perikatan).

Saksi Bimantara Agung Prawoto, teman kuliah Christian Halim menyatakan bahwa dirinya kerap bekerjasama dengan Terdakwa yakni persewaan alat berat.

Ketika melakukan pekerjaan di Morowali, Bimantara ikut dalam proyek itu. Pekerjaan disana dilakukan Oktober 2019.

Bimantara ikut di proyek tersebut tidak sejak awal, sudah di tengah-tengah. Dalam proyek di Morowali ini, Bimantara bertugas mengawasi alat berat. Dan dalam proyek di Morowali ini, Christian Halim ikut terlibat dan melakukan pekerjaan di bidang manajerial sedangkan Bimantara dalam hal pengawasan alat berat.

Di morowali, Christian mendapat proyek tersebut karena ditunjuk seseorang yang saksi Bimantara tidak mengetahui siapa namanya. Info itu didapat Bimantara berdasarkan pengakuan terdakwa Christian Halim sendiri

Bimantara juga menuturkan, yang dikerjakan terdakwa Christian Halim ketika di Morowali adalah pembangunan infrastruktur. Begitu pembangunan infrastruktur selesai baru melakukan kegiatan penambangan.

Saksi juga ditanya seputar kontrak. Jaka Maulana, salah satu kuasa hukum Christian Halim bertanya, apakah Bimantara melihat kontra untuk pembangunan infrastruktur di Morowali? Lalu, bagaimana dengan kontrak kerja untuk pertambangannya?

Mendapat pertanyaan ini, Bimantara mengaku, bahwa untuk pekerjaan pembangunan infrastruktur, ia tidak melihatnya dan sepengetahuan saksi tidak ada kontrak dalam kerjasama tersebut. Pembangunan infrastruktur ini dimulai Oktober 2019, sedangkan Bimantara datang untuk ikut dalam proyek tersebut Desember 2019.

Ketika Bimantara tiba di lokasi, ia melihat Jeti sudah jadi, workshop sudah jadi. Jeti, menurut saksi, dibuat terdakwa Christian Halim. Untuk kegiatan penambangan juga sudah dilakukan. Hasil dari penambangan kala itu adalah 17 ribu metrik ton. Untuk biaya penambangan saksi tidak tahu.

Hal senada juga diungkapkan saksi kedua yakni Indra Alfiandi, dia menyatakan bahwa infrastruktur yang dibangun terdakwa Halim sudah selesai dan sudah bisa digunakan. Memang ada beberapa perbaikan namun tak significan karena hanya untuk merapikan jalan karena dimusim hujan.

Sementara ahli Ghansham Anand,SH.,M.Kn menjelaskan tentang perjanjian dan perikatan. Saat pengacara Terdakwa mengilustrasikan perbuatan yang dilakukan Terdakwa sebagaimana dakwaan JPU, ahli menyatakan bahwa hal itu jelas masuk ranah keperdataan karena masuk cidera janji.

“Kalau misal saya diminta membangun A, B, C tapi tidak sesuai maka itu masuk wanprestasi. Membangun tidak sesuai kesepakatan dan ini adalah wujud dari cidera janji,” ujar ahli.

Terkait perjanjia secara lisan yang dilakukan Terdakwa dengan pelapor dalam pengerjaan proyek ini, ahli menyatakan hal itu akan menemui kesulitan dalam pembuktian. “ Namun bukan tidak bisa dibuktikan. Silahkan saja dibuktikan dengan alat bukti,” ujarnya.

Sementara JPU Novan dan Elisabeth lebih memilih untuk tidak mengajukan pertanyaan pada ahli dengan alasan ahli tidak ada urgensinya dengan dakwaan Jaksa.

Usai sidang, Jaksa Novan menyatakan langkah pihaknya untuk tidak bertanga ahli adalah karena saksi yang diajukan terdakwa adalah ahli perdata sementara yang dia sidangkan adalah ahli perdata.

“Kami tidak melihat adanya konteks yang relevan dalam sidang pidana kita dengan mendatangkan ahli perdata,” ujar Novan. [uci/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar