Iklan Banner Sukun
Hukum & Kriminal

Ada 30 Pelaku, Begini Kronologis Percaloan PPPK di Ponorogo

Ratusan guru honorer di Ponorogo diangkat menjadi PPPK, mereka mendapatkan SK dari Bupati(Foto: Endra Dwiono/beritajatim.com)

Ponorogo (beritajatim.com) – Aksi tak terpuji praktek percaloan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di Ponorogo terkuak. Tim khusus mengumumkan hasil investigasi yang dilakukan selama kurun waktu 25 hari.

Tim yang dipimpin langsung oleh Sekretaris Daerah (Sekda) itu, akhirnya mengungkap ada 30 pelaku percaloan. Mereka terdiri dari pihak eksternal yakni broker asal Jombang berinisial D dan pensiunan aparatur sipil negara (ASN) Dinas Pendidikan (Dindik) Ponorogo berinisial SJ.

Sementara pelaku dari internal yakni seorang ASN aktif di Dindik Ponorogo berinisial SU dan 27 orang yang saat ini menjabat PPPK.

Kronologis praktek culas itu terjadi pada Juni 2021 lalu, sebelum adanya pengumuman rekrutmen PPPK. Hal itu berawal saat broker asal Jombang berinisial D itu mengaku sebagai panitia seleksi nasional (Panselnas).

D menjalin komunikasi dengan pensiunan ASN berinisial SJ. Dari komunikasi yang dilakukan, D dipertemukan dengan para guru PPPK (statusnya saat itu masih menjadi guru honorer).

“Pelaku D yang mengaku dari Panselnas bicara dengan guru honorer bisa membantu menjadi PPPK. Tentu dengan menyerahkan sejumlah uang dan ijazahnya,” ujar Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Ponorogo, Andy Susetyo.

Dalam investigasi itu, tim khusus pada kurun waktu Juni hingga Agustus 2021 menemukan dokumen tentang penitipan ijazah dari guru honorer yang merupakan calon PPPK. Dalam dokumen itu, juga ada komitmen untuk menyerahkan sejumlah uang setelah menjadi PPPK.

“Jadi uang diserahkan setelah jadi PPPK, dan ijazah yang dititipkan sebelumnya itu, akhirnya menjadi jaminan,” kata Andy

Dalam perkembangan investigasinya, tim khusus akhirnya berkesimpulan ada satu ASN aktif yang berada di Dindik Ponorogo yang juga ikut terlibat rekrutmen PPPK lewat jalur tak biasa ini. Dari 27 PPPK yang juga jadi pelaku, sebanyak 11 orang tercatat sebagai koordinator.

Sedangkan ketua koordinatornya berinisial AR, yang merupakan PPPK guru olahraga yang bekerja di lingkup Kecamatan Ponorogo Kota.

“PPPK sebanyak 11 orang yang menjadi koordinator ini, bertugas mengumpulkan uang dan ijazah yang nantinya disetorkan ke pelaku AR ini,” ungkap Mantan Kepala Dipertahankan itu.

Dalam perjalanannya, dari 27 PPPK ini ternyata sebanyak 16 orang tidak memenuhi komitmen. Mereka tidak membayar sejumlah uang yang telah disepakati sebelumnya.

Karena tidak mau membayar, ada ancaman terhadap 16 pelaku sekaligus korban ini. Ancamannya, jika tidak segera membayar sejumlah uang, maka akan dibatalkan surat keputusan (SK) pengangkatan PPPK-nya.

Andy menyebut permasalahan itulah yang akhirnya membuat kasus percaloan PPPK ini terbongkar. Mereka yang ijazahnya masih ditahan oleh D, mengadu ke BKPSDM Ponorogo.

“Dari 30 pelaku ini, otak dalam kasus ini adalah D, yang mengaku menjadi Panselnas. Sementara untuk pelaku dari PPPK, juga sebagai korban,” katanya. [end/beq]

Apa Reaksi Anda?

Komentar