Hukum & Kriminal

Viral SIM Kolektif di Grup Whatsapp, Kapolresta Sidoarjo: Itu Kabar Hoax!

Sidoarjo (beritajatim.com) – Beredar informasi hoax (bohong) di tengah masyafakat Sidoarjo, terkait pembuatan SIM kolektif. Info tidak benar itu beredar secara berantai melalui group WhatsApp dan lainnya. Berikut informasi atau kalimat yang tengah beredar di tengah masyarakat Sidoarjo tersebut.

Info Pembuatan SIM Kolektif

Kabar gembira buat teman-teman yang belum memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM).

Akan diadakan pembuatan SIM secara Kolektif hanya datang, lalu foto dan tanpa tes. Kegiatan akan dilaksanakan pada:

Hari : minggu & senin
Tanggal : 1 & 2 MARET 2020
Jam : 07.30 s/d Selesai
Tempat : Halaman Samsat setiap kabupaten/kota di seluruh Indonesia

Persyaratan :
1. FC KTP (KTP asli dibawa).
2. Kalau pake resi KTP Sementara harus ada Kartu Keluarga.
3. Surat Keterangan Sehat dari Puskesmas.
4. Surat Keterangan dari Kelurahan dan Kecamatan setempat.

Biaya Pembuatan SIM :
*Sim B = Rp 150.000,-*
*Sim A = Rp 75.000,-*
*Sim C = Rp 50.000,-*

Pembuatan SIM ini berlaku untuk semua alamat KTP di seluruh wilayah Indonesia.

Pelaksanaan pembuatan SIM akan dilakukan di halaman samsat setiap kabupaten/kota seluruh Indonesia

Demikian dan terima kasih. 🙏🙏

Silahkan dishare, barangkali ada yang sedang membutuhkan.ijin atasan senior

Kapolresta Sidoarjo Kombespol Sumardji menegaskan bahwa informasi itu hoax atau tidak benar. Ia menyatakan, untuk pembuatan SIM baru, pemohon harus melalui prosedur. Yakni mengisi pendaftaran, menyertakan tes kesehatan, psikologi dan ujian tulis. “Pemohon juga harus menjalani ujian praktek. Apabila lulus, SIM langsung didapatkan. Jika tidak lulus, akan mengulang sampai dinyatakan lulus,” katanya, Sabtu (22/2/2020).

Mantan Wadir Polairud Polda Metro Jaya juga menghimbau kepada masyarakat Sidoarjo untuk lebih selektif dalam menerima informasi. Informasi yang diterima tersebut benar apa salah.

Diakui Sumardji, memang di zaman kemajuan tehnologi ini, informasi apapun gampang di dapatkan. Namun begitu, masyarakat harus pandai menfilter atau menyeleksi soal kebenarannya. Berita yang diterima benar ataukah salah. “Kalau salah jangan disebarluaskan, harus ditegasi kepada yang lainnya kalau berita tersebut hoax. Mari kita perangi berita hoax dan bijak dalam bermedia sosial,” ajak mantan Kabag Regident Ditlantas Polda Metro Jaya tersebut. (isa/kun)





Apa Reaksi Anda?

Komentar