Iklan Banner Sukun
Hukum & Kriminal

4 Panpel Arema FC Diperiksa Maraton Terkait Tragedi Kanjuruhan

Malang (beritajatim.com) – Empat panitia penyelenggara (Panpel) Arema FC diperiksa di Mapolres Malang terkait Tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 131 korban. Pemeriksaan tersebut dijalankan secara maraton.

Empat panpel tersebut yaitu Ketua Panpel Arema FC Abdul Haris, Manajer Tiket, Security Officer Suko Sutrisno, dan Media Officer Sudarmaji

“Dari panpel ada empat orang, ketua panpel, media officer, security officer, dan manajer tiketing,” ungkap Media Officer Arema FC Sudarmarji, Kamis (6/10/2022).


Sudarmaji terlihat meninggalkan ruang Satreskrim Polres Malang pada Rabu (5/10/2022), malam. Disusul kemudian Security Officer Suko Sutrisno.

Kementara Ketua Panpel Arema FC Abdul Haris belum nampak keluar dari ruang pemeriksaan hingga pukul 23.00 WIB.

Ditanya soal materi pemeriksaan, Sudarmaji mengaku, lebih banyak diminta memberi penjelasan tupoksi (tugas pokok dan fungsi) media officer yang melekat sebagai panpel pada laga kandang. Seperti diketahui tugas media officer fokus terhadap pelayanan dan memberikan akses kepada media untuk kebutuhan peliputan.

“Kita hanya menjelaskan subtansinya ada dua hal, apa saja yang diemban tugas media officer. Tentunya tugas media officer rekan-rekan media sudah tahu dan memahamilah. Kita fokus kepada, di mana memberikan pelayanan memberikan akses kepada media untuk peliputan. Jadi seputar itu,” jawab Sudarmaji.

Sudarmaji menambahkan, hal kedua dalam materi pemeriksaan oleh penyidik adalah terkait kronologi pertandingan. Fokusnya kepada 2×45 menit pertandingan dan tambahan waktu 7 menit sebelum babak kedua bubar.

“Kemudian ditanyakan tentang kronologis pertandingan fokus kepada 90 menit, plus 7 menit. Jadi 90 menit pertandingan ditambah waktu tambahan 7 menit,” imbuhnya.

Menurut Sudarmaji, pihaknya akan pro aktif dalam merespon segala proses yang tengah dilakukan oleh pihak kepolisian. Dirinya yakin dan optimis semua akan berbicara obyektif sesuai tupoksi masing-masing selama proses berjalan.

“Kalau soal kepanpelan konteks strukturalnya memiliki tupoksi masing-masing. Tapi harapannya memang itu menjadi laporan obyektif secara kepanpelan. Saya kira itu positif,” tuturnya.

“Tapi sekali lagi tugasnya panpel itu masing-masing berbeda-beda. Media officer (tupoksi) itu punya tugas dua. Ketika home melekat kepada kepanpelan dan tim, ketika away melekat pada tim. Tapi tupoksinya berbeda- beda kalau, kita media secara garis besar karena ditugaskan untuk melayani kebutuhan media dan akses media ya fokus di situ,” sambungnya.

Ditanya soal tujuan pemain berada di tengah lapangan usai laga bubar, Sudarmaji mengaku hal itu bukan tupoksinya untuk menjawab. Ia mengingatkan kembali tupoksi media officer, akan lebih baik hal itu ditanyakan langsung kepada pemain atau manajer tim.

“Sekali lagi pertanyaan tidak menjadi subtansi tupoksinya media officer. Itu bisa ditanyakan ke manajer atau ditanyakan ke kepada pemain yang bersangkutan,” kata dia.

Kendati demikian, Sudarmaji melihat adanya tradisi bagi tim Singo Edan untuk menyapa supoter pada bubaran laga sebelum masuk ke kamar ganti.

Pada akhir laga 1 Oktober 2022 malam itu, Sudarmaji melihat adanya gestur permohonan maaf dari pemain kepada suporter. Setelah Arema ditaklukan Persebaya dengan skor 3-2, hal itu merujuk kepada dua laga sebelumnya, ketika Arema menghadapi Persija dan Persib akan juga mengalami kekalahan.

“Kalau kita merujuk pada saat laga Persib dan Persija kita mengalami kekalahan. Mereka (pemain) mungkin bisa jadi itu menjadi gestur permohonan maaf kepada suporter. Itu yang saya ketahui. Tetapi sebenarnya bicara tupoksi itu adalah pemain yang bersangkutan atau manajer,” tegasnya. [yog/beq]


Apa Reaksi Anda?

Komentar