Hukum & Kriminal

3 Oknum Pegawai PT AP Bandara Juanda Selundupkan 113 Ribu Bibit Lobster

Sidoarjo (beritajatim.com) – Tiga oknum pegawai PT Angkasa Pura Bandara Internasional Juanda yang menjadi terdakwa penyelundupan baby lobster sebanyak 113.300 ribu melalui jalur Very Important Person (VIP) Terminal Bandara Internasional Juanda menjalani sidang tuntutan di Pengadilan Negeri (PN) Sidoarjo, Senin (14/10/2019).

Ketiganya hanya dituntut 1 tahun kurungan penjara dan denda Rp 50 juta, subsider 3 bulan kurungan penjara. Tuntutan dibacakan secara bergantian oleh tiga Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Sidoarjo yaitu Rochidah, Efreni dan Andik.

Tuntutan pertama kali dijatuhkan kepada terdakwa Agus Tri Harjono. Jaksa Rochida membacakan tuntutan terhadap terdakwa yang berprofesi sebagai petugas Apron Movement Control (AMC) Bandara Internasional Juanda, yang menjadi pelaku sentral dalam kasus penyelundupan baby lobster senilai Rp 17,3 miliar tersebut.

Selanjutnya Jaksa Andik membacakan tuntutan kepada terdakwa Vicky Nurdana, Team Leader Aviation Security (Avsec) Bandara Juanda, dan terakhir Jaksa Efreni membacakan tuntutan kepada Rifki Ijazul Haq, petugas Baggage Checker Bandara Juanda.

Meski tuntutan itu dibacakan secara bergantian, namun ketiga terdakwa itu dituntut dengan hukuman yang sama, walaupun para terdakwa dalam fakta persidangan mengaku sudah tujuh kali melakoni penyelundupan tersebut dan sudah menikmati upahnya.

Para terdakwa terbukti melakukan tindak pidana kepabeanan sebagaiaman diatur dalam pasal pasal 102 A huruf a Undang-undang nomor 17 tahun 2006 perubahan Undang-undang nomor 10 tahun 1995 tentan Kepabeanan, Jo pasal 56 ayat 1 ke 1 KUHP.

Sementara, atas tuntutan itu Ketua Majelis Hakim Minanoer Rachman memberikan kesempatan kepada terdakwa melakukan pledoi atau pembelaan atas tuntutan tersebut.

“Silahkan nanti saudara terdakwa melakukan pembelaan pekan depan, bisa membuat sendiri atau melalui penasehat hukumnya,” kata Minanoer sambil menyampaikan bahwa sidang pekan depan ditunda pada Selasa (22/10/2019) mendatang.

Seperti diketahui tiga oknum pegawai Bandara Internasional Juanda itu diadili di PN Sidoarjo, terkait kasus dugaan penyelundupan baby lobster sebanyak 113.300 yang di simpan dalam 4 koper dengan taksiran kerugian negara senilai Rp 17,3 miliar.

Dalam surat dakwaan mengurai, bahwa penyelundupan melalui area steril yaitu VIP Terminal 1 Bandara Internasional Juanda itu sudah diskenario oleh para terdakwa. Mereka membagi tugas agar ratusan ribu baby lobster itu lolos menuju Singapura.

Awalnya, Agus mendapat tawaran dari Anton Sandi Yudho, yang merupakan petugas Certified Refeuling Operator (CRO) pada Pertamina Training dan Consuling DPPU Juanda Pertama Aviation untuk kerjasama meloloskan baby lobster tersebut.

Tawaran itu pada April 2019 lalu. Anton yang saat ini merupakan DPO itu menyampaikan kepada Agus bahwa terkendala dengan pengiriman baby lobster karena terkendala izin oleh pihak Bea dan Cukai Juanda. Ia meminta melalui jalur belakang.

Permintaan itu disetujui Agus, apalagi pihak Anton menjanjikan uang Rp 10 juta untuk setiap koper yang berhasil lolos. Usai deal, Agus meminta agar Anton mengubungi Vicky dan Ainoer Rofiq, yang kini juga menjadi DPO. Anton pun menghubungi keduanya dan sepakat mau membantu.

Bukan sampai di situ, Anton akhirnya mengenal Rifki Ijazul Haq dan mau membantu persengkokolan itu. Pada 23 Juni 2019 lalu, Anton akhirnya menyampaikan kepada Agus bahwa ada order baby lobster yang diselundupkan ke Singapura. Agus pun menguhubungi ketiga rekannya agar memuluskan penyelundupan 4 koper berisi baby lobster.

Ke esok harinya, pada tanggal 24 Juni 2019 mereka pun beraksi dengan peran masing-masing. Rifqi lalu berperan meminta kepada petugas Counter Cek In agar mencetakkan boarding pass dan claim tag sebayak 4 koper penumpang pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA854 dengan rute Surabaya ke Singapura atas nama Roni Iskandar dan Didik Ismanto.

Setelah itu, tiket tersebut dikirim petugas melalui Whatsapp kepada Rifqi. Usai mendapat tersebut, Rifqi menghubungi Ainoer Rofiq dan diserahkan kepada Vicky. Setelah itu, Vicky memerintahkan kepada anak buahnya mensterilkan VIP T1 Bandara Internasional Juanda dan membuka pintu gerbang.

Dengan mudahnya dan tanpa melalui SOP Anton lalu masuk menggunakan Mobil Kijang LGX yang di dalamnya ada empat koper baby lobster ke landasan Bandara Juanda melalui VIP Terminal 1 Bandara Juanda.

Kemudian barang tersebut diturunkan lalu dibawa oleh Ainoer Rofik dan memasang claim tag dan memasukan ke pesawat. Untungnya, pihak petugas gabungan sigap dan berhasil mengungkap sebelum pesawat take off dari Bandara Internasional Juanda.

Sementara adanya dua DPO tersebut, pihak Bea dan Cukai Bandara Juanda akan mengejar dua DPO lainnya yaitu Anton Sandi Yudho, yang merupakan petugas Certified Refeuling Operator (CRO) pada Pertamina Training dan Consuling DPPU Juanda Pertama Aviation dan Ainoer Rofiq, petugas Baggage Towing Tractor (BTT) Bandara Juanda.

“Tetap akan kami kejar dua DPO itu. Kami juga sudah berkerjasama semua pihak, termasuk dengan Mabes Polri dan pihak Angkasa Pura karena kami ada keterbatasan kewenangan, maka kami bekerjasama dengan semua pihak untuk menangkap DPO itu,” ucap Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean Juanda Budi Harjanto di depan wartawan. (isa/ted)

Apa Reaksi Anda?

Komentar