Gaya Hidup

Yuks Intip Keindahan Hutan Mahoni Di Glenmore Banyuwangi

Banyuwangi (beritajatim.com) – Banyuwangi,siapa yang tak tahu nama daerah yang eksotis satu ini. Tak hanya keindahan alamnya yang sayang untuk dilewatkan, pengalaman menikmati jajanan kuliner tradisional Banyuwangi juga menjadi incaran para pelancong.

Salah satunya, kini hadir Glenmore Food Market. Tepatnya di Perkebunan Kalikempit PTPN XII, Kecamatan Glenmore.

Pecinta kuliner dapat mencicipi aneka kuliner tradisional Banyuwangi di bawah rindang dan sejuknya pohon Mahoni yang tertanam di atas luas lahan 8 hektar. Aneka jajanan dan kuliner di antaranya: lontong campur, cimplung, es dawet wortel, dawet sawi hijau dan buah naga. Serta aneka jajan tradisional lainnya.

 

“Kini berwisata di Banyuwangi tidak hanya untuk menikmati keindahan alamnya, namun juga bisa mencicipi ragam kuliner lokal buatan warga yang banyak tersebar di beberapa area, salah satunya di sini,” ujar Bupati Anas, beberapa waktu lalu.

Glenmore Food market buka setiap Minggu pagi. Menu yang ditawarkan pun beragam, salah satu yang bisa ditemui di sini adalah lontong campur yang khas Kecamatan Glenmore. Lontong Campur ini cukup unik, karena memadukan dua kuah dalam penyajiannya yakni bumbu kacang dan kaldu santan yang gurih. Ditambah toping mie bihun, potongan daging sapi dan krupuk, semakin lezat untuk dinikmati.

Anas mengatakan, setiap wilayah di Banyuwangi memiliki potensi kuliner yang unik. Pemkab pun mendorong masyarakat untuk bisa mengangkat potensi itu menjadi salah satu sumber pengungkit ekonomi lokal.

“Makanya kami terus mendukung kolaborasi warga dan swasta yang membuka pasar kuliner seperti ini. Seperti di Glenmore Foodmarket ini yang merupakan hasil kolaborasi PTPN XII dan warga setempat. Karena dengan begini warga terlibat langsung dan merasakan geliat pariwisata daerah, sekaligus menambah daftar destinasi bagi wisatawan,” ujar Anas.

Glenmore sendiri adalah salah satu kecamatan di wilayah selatan Banyuwangi yng terletak di kaki gunung Raung. Glenmore selama ini menjadi salah satu jujugan wisatawan asing yang berkunjung ke Banyuwangi.

Nama Glenmore sendiri, diduga berasal dari bangsawan Skotlandia yang membeli lahan perkebunan di daerah ini. Dalam Bahasa Gaelic sebagai bahasa asli Skotlandia, Glenmore berarti “big glen” yakni daerah dengan kontur perbukitan yang menghampar sangat luas.

Meskipun nama Glenmore lebih dekat dengan Skotlandia, secara fisik Glenmore cukup dekat dengan hal-hal yang berbau Belanda karena Belanda cukup lama menguasai lahan perkebunan di daerah ini. Bangunan-bangunan peninggalan Belanda seperti markas, stasiun kereta uap, sistem irigasi, hingga gudang penimbunan hasil perkebunan masih ditemukan hingga sekarang.

“Glenmore memiliki sejarah yang panjang, banyak wisatawan Eropa, khususnya Belanda datang kemari untuk berwisata sejarah. Kami ingin melengkapi kawasan ini dengan atraksi kuliner bagi wisatawan. Salah satunya dengan food market ini,” kata Anas.

Manajemen PTPN XII pun sangat terbuka untuk pengembangan pariwisata dengan memanfaatkan aset aset perusahaan bersama masyarakat setempat. PTPN sendiri memiliki banyak aset di Banyuwangi yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai spot pariwisata menarik.

Manajemen pun terus mendukung pengembangan pariwisata daerah. Terlebih konsep yang dijalankan oleh Banyuwangi selama ini tidak mengganggu keaslian alam yang ada. Ke depan akan ada beberapa program yang dikembangkan bersama.

Di Banyuwangi terus tumbuh pasar kuliner tematik berbasis desa. Seperti Pasar Kuliner Tradisional di Desa Olehsari tiap malam minggu, Pasar Wit witan di Kecamatan Singojuruh dan Jajanan tradisional Desa Kemiren di hari minggu, hingga Arabian Food Street yang menawarkan makanan khas Timur Tengah di Kelurahan Lateng tiap Kamis malam.[rin/ted]

Bagi para pecinta kopi, kini ada Malangsari Food and Coffee Market yang berada di areal Perkebunan Malangsari, Kecamatan Kalibaru. [rin/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar