Gaya Hidup

Wendit, dari Peristirahatan Raja Majapahit hingga Kera Penjaga Mata Air

Malang (beritajatim.com) – Bagi masyarakat di Kabupateb Malang, tempat wisata Sumber Air Wendit di Desa Mangliawan, Kecamatan Pakis, sudah begitu populer. Wendit diyakini satu kawasan wisata sumber air berusia cukup tua.

Meski objek wisata buatan bermunculan di Malang Raya, Wisata Sumber Air Wendit tak lekang oleh zaman. Wendit makin digandrungi karena di tempat inilah, ratusan kera abu-abu ekor panjang menjadi penanda sekaligus pembeda dari zona wisata serupa se Malang Raya.

Konon, pada zaman dahulu, Wendit diyakini menjadi tempat peristirahatan Raja Hayam Wuruk, penguasa tunggal dari Kerajaan Majapahit.

Menurut Kepala Desa Mangliawan, Suprapto, Wendit adalah sejarah, di tempat wisata ini, juga terdapat kolam renang yang berasal dari sumber mata air di sekitarnya. Dalam kolam renang tersebut ada yang sudah dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti waterboom mengikuti perkembangan waktu.

“Di Wendit ini ada mata air yang diyakini oleh masyarakat Tengger sebagai tempat sakral. Yang paling unik di Wendit adalah keberadaan ratusan ekor kera atau monyet. Jumlah kera ini tidak bisa diketahui dan berasal dari mana, padahal lokasinya sangat dekat dengan perkampungan,” ungkap Suprapto, Selasa (16/9/2020).

Suprapto mengisahkan, berdasarkan cerita dari nenek moyang, wisata Wendit berasal dari kata Wendito yang berarti Pandito atau seorang Pendeta. Sebuah cerita mengatakan bahwa sumber air Wendit muncul karena pergeseran gunung Widodaren. Pergeseran tersebut, menyebabkan banyak wilayah yang kekeringan.

Hingga akhirnya pada satu waktu, seorang Pendeta melakukan semedi di wilayah Mangliawan. Hasil dari bertapa itulah, diyakini munculnya sumber air yang kelak diberi nama sebagai Wendit.

“Berdasarkan cerita sesepuh desa dan kakek saya, Wendit merupakan tempat peristirahatan Raja Hayam Wuruk dari Majapahit. Keturunan raja tersebut merupakan Bupati Malang yang pertama, selanjutnya Bupati Malang yang kedua merupakan keturunan dari Bupati yang pertama,” tegasnya.

Suprapto melanjutkan, keturunan dari Bupati Malang yang ke dua tersebut tidak mau meneruskan untuk menjadi Bupati Malang ketiga. Namun, lebih memilih untuk melakukan kegiatan spiritual yang biasa di sebut Lelono. Diyakini, monyet-monyet yang berada di wilayah Wendit itu dulunya merupakan penjelmaan dari pasukan Majapahit, pengikut dari Bupati Malang yang kedua.

“Setahu saya dari saya kecil hingga saat ini, jumlah monyet di Wendit ya itu-itu saja. Masyarakat juga menyakini jika monyet-monyet itu tidak bertambah dan berkurang dari masa ke masa. Ada yang bilang jika monyet-monyet itu sebagai utusan dari sebuah kerajaan di Tengger untuk melindungi sumber mata air di Wendit,” paparnya.

Suprapto melanjutkan, berbagai cerita mengenai manfaat dari air di pemandian Wendit juga sangat masyur sampai hari ini. Sementara dimasa penjajahan Belanda dahulu, tempat wisata Wendit telah diubah menjadi sebuah tempat peristirahatan dan pemandian yang dilengkapi lapangan tenis dan ditanami banyak pohon hingga menyerupai hutan kecil.

“Tempat itu sempat rusak dan tidak terurus ketika awal datang penjajahan Jepang. Tapi di zaman Jepang, monyet-monyet itu sebulan sekali divaksin. Hanya saja untuk jumlah pastinya, tidak tahu, dan saat ini malah ada tiga kelompok kawanan monyet tersebut,” Suprapto mengakhiri. [yog/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar