Gaya Hidup

Warga Tengger : Pembangunan di Ngadas Bromo Sudah Lewat Proses Adat

Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) saat berdiskusi dengan sejumlah pihak soal pembangunan sarana dan prasarana.

Malang(beritajatim.com) – Polemik pembangunan sarana prasarana di Dusun Jemplang, Desa Ngadas, Poncokusumo, Kabupaten Malang sudah sesuai persetujuan warga Tengger. Bahkan, pembangunannya sudah melalui serangkaian prosesi adat warga setempat.

“Mulai dari awal sudah melakukan babat itu. Cara orang di sana pakai slametan. Kalau orang sana itu pakai pakai dupa segala macam. Mengundang Lurah kami, dukun Tengger juga kami undang,” ujar salah satu tokoh masyarakat, Sampetono, Selasa, (14/9/2021).

Slametan yang dilakukan oleh masyarakat adat Tengger semata untuk meminta izin kepada alam bahwa akan ada pembangunan di kawasan ini. Warga berharap pembangunan yang sedang dilakukan tidak sampai merusak alam.

Baca Juga:

    “Jadi alhamdulillah setelah kami melaksanakan (slametan) tidak ada yang bertengkar sama sekali, alat-alat tidak ada yang rusak. Juga tidak ada yang sampai terluka,” imbuh Sampetono.

    Sebelumnya, di media sosial Twitter Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Timur mencuit soal rencana pembangunan wisata buatan di kawasan TNBTS. Apalagi pembangunan ini dilakukan di sekitaran situs Punden Kutugan.

    Tokoh Masyarakat setempat lainnya Kartono mengungkapkan bahwa area pembangunan sarana dan prasarana jauh dari lokasi Punden Kutugan. Memang berada dalam satu area tetapi lokasinya tidak berada persis di atas Punden Kutugan.

    “Karena memang di sana ada Kutugan (punden) sehingga ada batasan-batasan, yang sudah kami sepakati bersama. Itu jauh dari para wisawatan yang ada di atasnya. Dari mbah dukun juga sudah mengizinkan,” papar Kartono.

    Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Balai Besar (BB) Taman Nasional Bromo-Tengger Semeru, Novita Kusuma Wardani mengungkapkan pembangunan yang dilakukan bukan proyek wisata buatan. Novita mengatakan di Taman Nasional BTS sekitar 30 hektar masuk zona pemanfaatan dan dua hektarnya merupakan ruang usaha.

    “Ada informasi seolah-olah Bromo-Tengger Semeru itu akan dibangun wisata buatan itu tidak tepat. Karena yang dibangun adalah sarana dan prasarana wisata alam. Hanya 10 persen dari luas yang diizinkan. Jadi tidak akan menggangu program konservasi,” tandas Novita. (luc/kun)



    Apa Reaksi Anda?

    Komentar