Gaya Hidup

Upacara Yadnya Kasada Suku Tengger di Tengah Pandemi

Probolinggo (beritajatim.com) – Hari raya Yadnya Kasada bagi umat Hindu Suku Tengger di Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo berjalan khidmat. Rangkaian acara telah berlalu beberapa hari.

Mulai semeninga, mendak tirta atau pengambilan air suci hingga makemit. Berlanjut, melasti dan atur sungguh.

Acara puncak, dirangkai dengan acara pawedalan pura Ponten tempat suci yang berada di kaki Gunung Bromo. Acara berlanjut dengan upacara Yadnya Kasada berdoa dalam pura dan melarung atau lelabuh sesaji ke Kawah Gunung Bromo.

Sesaji itu, berupa hasil bumi, hewan ternak dan uang sebagai persembahan untuk Sang Hyang Widhi. Persembahan itu diletakkan pada sebuah alat bernama ongkek, kemudian dibawa warga ke atas dan dilempar ke dalam kawah.

Ribuan umat berbondong-bondong, menyemput menapaki anak tangga menuju puncak. Tua, muda hingga anak bayi turut berduyun memuja Tuhannya.

Unik dan menarik perhatian, sejumal warga ternyata sudah menunggu kedatangan para umat di puncak. Mereka menanti larungan sesaji yang akan diambil setelah dilempar oleh warga.

Pemandangan yang tidak lazim, karena mengancam bahaya bagi pelakunya. Betapa tidak, warga ini berdiri di tepi kubangan kaldera kawah Gunung Bromo.

Acap kali, mereka berebut mendapatkan sesaji. Tak sedikit dari mereka terpaksa membawa alat galah dan jaring.

Tak berhenti di sini, malam harinya ritual kembali berlanjut hingga semalam suntuk. Yakni, pemberangkatan umat dari berbagai penjuru. Ritual Yadnya Kasada dimulai.

Susunannya, pembacaan sejarah Yadnya Kasada dan puja stuti dukun pandita. Berlanjut upacara mulunen atau pengukuhan dukun pandita baru. Mekakat sebagai penutup rangkaian acara.

Setelah dikukuhkan, Pandita baru ini langsung melayani umat yang akan melakukan labuh atau larung sesaji. Dan, melaksanakan korban suci atau Nglabuh.

“Ini membawa hasil bumi, ternak dan uang sebagai persembahan kepada Sang Hyang Widhi dan Raden Kusumo sebagai perjanjian anak cucu,” kata Muliat warga setempat.

Tujuan labuh, kata Muliat, adalah wujud syukur dan terima kasih atas limpahan rejeki dan berharap keselamatan.

“Menurut cerita dan kepercayaan masyarakat sini, semua ini ada yang membuat. Gunung Bromo muncul api ada penjaganya, kemudian ada sumber air patirtan Widodaren,” katanya.

Suku Tengger tetap melaksanakan upacara Yadnya Kasada meski di tengah pandemi. Berbagai batasan dan protokol kesehatan tetap diberlakukan.

Selain itu, ritual dikhususkan bagi warga Tengger saja. Tidak dibuka untuk umum dan wisatawan.

Setiap jalan menuju Desa Ngadisari dijaga ketat. Tercatat ada lima pintu pemeriksaan untuk memeriksa setiap warga yang hendak masuk.

“Warga ber KTP luar sini tidak diperbolehkan. Kami juga memberlakukan pembatasan dan protokol kesehatan. Bagi mereka yang tidak memaki masker diminta putar balik. Masker itu harus,” kata Miko salah satu Petugas penjaga Pos Check Point, Desa Ngadisari. [rin/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar