Gaya Hidup

Topeng Dalang Sumenep, Tak Lagi Hanya Mahabarata dan Ramayana

Sumenep (beritajatim.com) – Topeng dalang merupakan salah satu kesenian tradisional yang dikembangkan di Sumenep. Di beberapa daerah di luar Kecamatan Kota Sumenep, topeng dalang menjadi sajian khusus saat warga memiliki hajatan seperti pernikahan.

Sementara di Kecamatan Kota, pagelaran topeng dalang biasanya menjadi tampilan spesial saat ada pagelaran seni dan budaya.

“Kami terus berusaha melestarikan kesenian topeng dalang. Bahkan beberapa kali topeng dalang Sumenep sudah tampil di luar negeri saat ada festival-festivsl,” kata Kepala Bidang Pariwisata, Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olah Raga Sumenep, Imam Buchori, Sabtu (28/11/2020).

Topeng Dalang ini merupakan salah satu seni pertunjukan rakyat khas Sumenep. Dalam kesenian ini, lakon yang terlibat dalam cerita menggunakan Topeng (penutup muka) yang disesuaikan dengan karakter tokoh yang dimainkan.

Dengan diiringi musik tradisional gamelan Madura, si pemeran (wayang) hanya memainkan gerak tubuh atau muka, menyesuaikan dengan alunan gamelan Madura dan sesuai alur cerita yang dibawakan sang Dalang, Dalang dalam  kesenian Topeng dalang ini tidak pernah muncul. Ia memainkan peran wayang-wayangnya daribalik panggung.

Salah seorang dalang kesohor dalam seni topeng dalang Sumenep, Akhmad Darus, atau Pak Daruk menuturkan, kesenian tipeng dalang Sumenep sebenarnya merupakan hasil adopsi dari kesenian wayang di Jawa.

Kemudian masuk ke wilayah Proppo, Kabupaten Pamekasan yang berbatasan dengan Sumenep. Di Proppo ada sebuah perkumpulan tokop atau topeng. Dalam perkumpulan itu, ada dua anggota yang kebetulan dari Sumenep, yakni  Tearjâ Nimprang dan Agung Kertè. Keduanya  yang kemudian menjadi embrio lahirnya Topeng Dalang di Sumenep.

Menurut Daruk, kala itu. dalam pergelarannya, topeng dalang dalam bentuk drama atau tonil dengan mengambil cerita Mahabarata dan Ramayana.

“Kalau dulu ya itu-itu saja cerita yang dipentaskan. Tapi dalam perkembangan berikutnya, mulai ada  variasi cerita. Tidak lagi hanya tentang Mahabarata dan Ramayana,” ujarnya.

Hal itu dibenarkan Adi Sutipto, Ketua salah satu kelompok topeng dalang di Dasuk, Rukun Pewaras. Menurutnya, kelompok topeng dalangnya terus berusaha melakukan regenerasi untuk melestarikan kesenian topeng dalang.

“Kalau sekarang anggota Rukun Pewaras sudah banyak yang muda-muda. Cerita yang disajikan juga sudah beragam. Menyesuaikan dengan kondisi sosial saat ini. Jadi cerita yang ditampilkan sudah tidak lagi hanya Mahabarata dan Ramayana,” tuturnya. (tem/ted)


Apa Reaksi Anda?

Komentar