Gaya Hidup

Tiga Bersaudara Bikin Usaha Topeng Jaranan

Bojonegoro (beritajatim.com) – Berderet topeng jaranan dan barongan dipajang di tembok rumah milik Sumantri (39) Warga Desa Mojodeso, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro. Topeng-topeng tersebut merupakan hasil produksinya bersama dengan keluarga.

Bengkel produksinya berada di ruang berukuran sekitar 3 x 6 meter di samping rumah. Hampir setiap hari dia memproduksi berbagai aksesoris dan topeng jaranan maupun barongan. Dia sudah menjadi pengrajin topeng sejak 10 tahun terakhir.

Tak ayal dia selalu mendapat banyak pesanan maupun selalu setor barang ke toko, karena kesenian tradisional jaranan banyak dikenal dan digemari masyarakat. Sehingga, meski hanya berjualan topeng jaranan dia sudah bisa memenuhi kehidupan keluarganya.

Sumantri bercerita, bahwa keahliannya dalam membuat topeng dari kayu itu dia peroleh dari darah orang tuanya. Sejak kecil, pria yang kini memiliki dua orang anak itu sudah terlibat langsung dalam pembuatan topeng yang dilakukan oleh ayahnya.

“Keahlian turunan, bapak juga bikin kerajinan seni tradisional,” katanya bercerita, Sabtu (2/2/2019).

Tiga saudaranya juga memiliki usaha yang sama. Ketiga saudaranya yakni, Warsono, Supangat, dan satu orang perempuan Riwayati. Sumantri sendiri dalam memproduksi topeng dibantu oleh istrinya, Sumilah dan anak pertamanya, Alvi yang sudah duduk di bangku SMA kelas XII.

“Kalau pesanan lagi banyak mereka (anak dan istrinya) membantu. Tapi kalau produksi setiap harinya saya kerjakan bersama satu orang tetangga,” ujarnya.

Hasil topeng-topeng karyanya itu diantaranya jenis Barongan, Kucingan, Bantengan, Ganongan, Singo, Celeng, Jaranan, dan topeng khas lokal Kebo Banaran. Kebo Banaran ini biasanya dipakai dalam acara bersih desa atau sedekah bumi di Mojodeso.

Topeng-topeng tersebut dibuat dari bahan dasar limbah kayu jenis waru dan sengon. Sementara untuk rambutnya menggunakan bulu ekor sapi serta bahan dasar talang karet. “Kayunya biasa langsung beli satu pick up seharga Rp600 ribu, dan bisa jadi 200an biji topeng dengan ukuran kecil,” terangnya.

Hasil kerajinan daur ulang kayu itu kemudian dikirim ke Kabupaten Kediri, Blitar, Tulungagung dan Jombang. Agen yang berasal dari luar kabupaten itu biasanya langsung membeli dalam jumlah besar untuk dijual kembali.

Untuk satu topeng berukuran paling kecil Sumantri menghargai senilai Rp40 ribu perbiji, untuk ukuran sedang dihargai Rp75 ribu, Rp150 ribu, dan yang ukuran besar dari harga Rp800 ribu sampai Rp1 juta perbiji.

Selain dijual secara grosir, dia juga menjual secara eceran. Paling banyak biasanya saat ada acara perayaan hari kemerdekaan RI, maupun hari jadi Bojonegoro. “Kalau sudah musim 17 Agustusan, karnaval dan hari jadi pesanan sangat banyak sampai kualahan,” terangnya.

Dari hasil penjualan topeng itu, dia mengaku pendapatan kotor perbulan bisa sampai Rp5 juta hingga lebih. Saat ini dia berencana untuk mengembangkan usahanya itu dengan membuat ruang produksinya yang lebih representatif dan memiliki ruang pamer sendiri. [lus/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar