Iklan Banner Sukun
Gaya Hidup

Teruskan Resep Warisan Keluarga, Warga Mojokerto Ciptakan Kreasi Getuk Lindri

Aneka getuk kreasi Yeni Rekawati (37) bersama sang suami, Lucky Hariyanto (39).

Mojokerto (beritajatim.com) – Getuk lindri adalah salah satu jajanan jadul khas Indonesia yang terbuat dari singkong. Di tangan warga Dusun Sidobecik RT 01 RW 08, Desa Pulorejo, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto ini, tampilan getuk lindri tak lagi memanjang dengan toping kelapa parut.

Dia adalah Yeni Rekawati. Perempuan 37 tahun ini, bersama sang suami Lucky Hariyanto (39) membuat tampilan getuk lindri semakin menarik. Seperti disusun layaknya tumpeng, bola-bola singkong dengan isian berbagai rasa, getuk goreng aneka rasa, getuk srawut, getuk slamun, getuk mawar dan getuk lapis legit.

Bahan utama yang digunakan masih singkong, gula pasir, dan kelapa parut. Namun adonan getuk lindri biasanya diberi pewarna seperti cokelat, hijau, dan merah muda ini, di tangan ibu satu anak ini menjadi beraneka macam bentuk. Tidak hanya getuk lindri yang biasa kita temui, dicetak dengan ukuran memanjang.


“Usaha ini sejak tahun 2020, ketika pandemi Covid-19 lalu. Saat itu, kami punya singkong dan membuat getuk lindri kemudian kami cobakan ke saudara-saudara. Katanya enak. Awalnya dari getuk slamun, getuk slamun itu getuk gulung resep dari orang tua kemudian kami kreasikan,” ungkapnya, Sabtu (20/8/2022).

Nama Slamun tersebut diambil dari nama orang tua yakni Slamet dan Muntamah. Bahan dasar singkong tersebut ia beli dari pedagang di Pasar Tanjung Anyar Kota Mojokerto. Menurutnya, singkong di pasar terbesar di Kota Mojokerto tersebut lebih bagus baik tekstur maupun rasa.

“Dari Pasar Tanjung Anyar, karena singkongnya Pacet. Rasanya lebih enak dan tekturnya bagus, mumprul orang Jawa bilang. Untuk proses produksinya, singkong yang sudah dikupas, dibersihkan bersih dan dipotong-potong kemudian dikukus kurang lebih 1 jam. Setelah itu digiling,” katanya.

Proses pengilingan, ia lakukan hingga tiga kali untuk menghasilkan rasa yang lebih lembut di lidah. Namun sebelumnya, singkon yang telah dikukus dicampur bumbu resep warisan orang tua dan diaduk menggunakan mesin. Setelah digiling baru dibentuk berbagai macam sesuai pesanan.

“Kami bentuk seperti bentuk bunga mawar, bentuk aneka sayur dan buah. Untuk penjualannya, kami ada kedai di depan Polsek Dawarblandong sebagai pancingan saja. Biasanya kami online jadi yang banyak pembelinya dari online. Yang banyak diminati pelanggan adalah getuk lindri dan getuk slamun,” ujarnya.


Guru play grup di Desa Pulorejo ini menjelaskan, harga getuk buatannya satuan mulai dari Rp1 ribu, hampers mulai Rp25 ribu sampai Rp100 ribu dan tumpeng mulai Rp50 ribu hingga Rp400 tergantung diameter tumpeng. Pemesanan mulai dijual eceran hingga pesan paketan.

“Dalam sebulan omzetnya kurang lebih Rp15 juta, sehari rata-rata Rp500 ribu. Untuk singkong 30 kg tapi saat pesanan ramai bisa 50 kg dalam sehari. Pemesanan paling jauh ke Ponorogo, ini tahan maksimal 12 jam lebih karena kami tidak menggunakan bahan tambahan, penawetnya kami pakai gula dan garam asli jadi bahan yang aman dikonsumsi,” jelasnya.

Kini usaha getuk dengan nama Dapoer Mama Jeo ini, sudah mulai dikenal hingga sang suami harus resign dari tempat kerjanya untuk membantu sang istri memenuhi pesanan. Ia juga dibantu tiga orang karyawan yang masih saudara, satu orang produkai, satu orang jaga kedai dan satu orang berjualan keliling.

“Suami saya sebelumnya kerja di tempat wisata yang ada di depan Polsek Dawarblandong, kemudian keluar untuk membantu memenuhi pesanan. Ramai pas moment hajatan dan seperti kemarin barikan, banyak yang pesen getuk tumpeng. Bahkan kemarin kami menolak sekitar 8 pesanan karena kami kekurangan tenaga,” tuturnya.

Pada moment peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) ke 77 kemarin, ia bersama sang suani menerima tujuh pesanan tumpeng getuk dan delapan hampers. Namun karena permintaan pemesan diambil di jam yang sama sehingga ia harus menolak sekitar delapan pesanan getuk tumpeng.

“Pernah bahan baku singkong tidak ada, pas lebaran. Bisa diprediksi setiap lebaran, singkong tidak ada karena pedagang tutup tidak jualan. Tapi pesanan banyak jadi ya terpaksa bikin singkong dengan kualitas biasa, pengaruh di rasa dan tekstur tapi kami sampaikan ke pelanggan. Kondisi seperti ini, biasanya hanya dua minggu,” tegasnya. [tin/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar