Iklan Banner Sukun
Gaya Hidup

Terbangkan ‘Naga’ Jadi Aktivitas Ngabuburit Favorit Warga Lamongan

Lamongan (beritajatim.com) – Saat bulan Ramadan, tanah lapang di Kelurahan Sukomulyo, Kecamatan Lamongan, Kabupaten Lamongan selalu ramai. Tempat ini menjadi andalan warga untuk menunggu waktu berbuka puasa atau ngabuburit.

Uniknya, warga tak sekadar duduk dan berburu takjil saja namun juga memanfaatkan waktu dengan bermain layang-layang. Mereka bersama-sama menerbangkan layang-layang berbentuk naga berukuran raksasa.

Mulai dari anak muda hingga orang tua, semua berkumpul untuk memainkan permainan tradisional tersebut. Puluhan layang-layang naga beragam ukuran dan motif yang diterbangkan ini pun seolah tampak menari dan meliuk-liuk saat diterpa angin.

Hal ini membuat warga semakin antusias dan tertarik untuk berbondong-bondong datang ke lokasi.

“Kami sengaja datang ke sini karena ingin menerbangkan layang-layang naga sambil ngabuburit menunggu waktu berbuka,” ucap Arul, salah satu pecinta layang-layang naga asal Desa Jelakcatur, Kecamatan Kalitengah kepada wartawan sembari menerbangkan layang-layang.

Lebih lanjut Arul dan teman-temannya mengaku, jika ukuran terkecil layang-layang yang diterbangkannya adalah 30 meter dengan diameter layang-layang 30 cm. Bahkan, ada juga yang memiliki panjang 60 meter yang berbahan kain parasut dan fiber.

“Bahan untuk layang-layang naga seperti ini adalah kain parasit dan fiber, kami membuat sendiri layang-layang ini, tapi kalau ada yang ingin membeli ya kami lepas,” akunya.

Mengenai biaya pembuatan, Arul menjelaskan, jika hal itu menyesuaikan ukurannya. Semakin panjang dan besar layang-layang, maka biayanya juga semakin besar.

“Layang-layang naga pelangi sepanjang 30 meter seperti ini setidaknya butuh sekitar Rp 3 juta, dan untuk yang lebih besar lagi bisa sampai Rp 4,5 juta. Harga segitu baru biaya untuk beli bahan-bahannya, kalau untuk dijual kembali bisa lebih mahal lagi. Kalau ada yang pesan juga akan kita buatkan,” bebernya.

Tak hanya soal biaya, Arul menambahkan, bahwa dalam membuat layang-layang naga dibutuhkan ketekunan. Untuk yang berukuran 30 meter, setidaknya memakan waktu sekitar 1 bulan. “Panjang dan ukuran layang-layang harus pas agar bisa terbang. Tali temalinya juga harus pas,” terangnya.

Hingga saat ini, Arul mengungkapkan, jika ia bersama teman-temannya yang tergabung dalam Bonorowo Club kerap berpindah-pindah tempat untuk menerbangkan layang-layang naganya. Tak hanya di lapangan, tapi juga di pantai.

“Kami biasanya satu bulan sekali ngumpul sambil menerbangkan layang-layang seperti saat ini, dan sering pindah-pindah tempat, sambil memilih tempat yang berpotensi memiliki angin yang kencang agar layang-layang bisa terbang,” imbuhnya.

Menurut Arul, layang-layang raksasa yang mereka terbangkan tak melulu berbentuk naga, ada model lain yang juga berukuran besar seperti model pesawat terbang dan lainnya. Semakin besar layang-layang, maka semakin banyak orang yang dibutuhkan untuk mengangkatnya.

“Tiap layang-layang naga, butuh setidaknya 3 orang untuk menarik tali kekang layang-layang dan 4 orang lainnya menjaga dan menerbangkan ekor layang-layang agar tidak nyangkut dan bisa terbang tinggi,” imbuhnya.

Sementara itu, salah satu warga setempat bernama Sasmito yang datang untuk melihat layang-layang menyampaikan, jika beragam layang-layang yang diterbangkan ini memiliki motif menarik dan bentuk yang unik, sehingga jadi menyedot perhatian warga sekitar.

“Seru, hiburan gratis bagi warga mas. Saya ke sini kebetulan mengantarkan anak yang ingin melihat layang-layang, sekalian ngabuburit,” kata Sasmito yang mengajak anaknya. [riq/beq]


Apa Reaksi Anda?

Komentar