Gaya Hidup

Teladani Kesuksesan Masa Lampau, JAMAL Gelar Seminar Sejarah Lamongan

Lamongan (beritajatim.com) – LSM Jaringan Masyarakat Lamongan (JAMAL) menggelar Kegiatan Temu Kangen yang bertempat di Omah Kopi, Jalan Ahmad Dahlan nomor 62 Tlogoanyar Lamongan, Kamis (10/6/2021) kemarin. Dalam kegiatan ini juga dilakukan Seminar Sejarah Lamongan yang mengusung tema ‘Mengulik Sejarah, Menyiapkan Masa Depan Daerah’, serta menghadirkan beberapa tokoh Lamongan sebagai narasumbernya.

Dalam kesempatan tersebut Presiden Jamal, Afandi menyampaikan, bahwa diusungnya tema tersebut dalam kegiatan ini bertujuan agar masyarakat mampu memahami sejarah Lamongan dan meneladani kesuksesan masa lampau guna menyiapkan masa depan Lamongan yang lebih baik.

“Melalui kegiatan seperti ini, kita bisa memahami khasanah dengan utuh dan kita tahu siapa jati diri kita sebenarnya. Sebagai kordinator, kami hanya memfasilitasi dan membuka ruang terhadap ide dan gagasan dari teman-teman yang bisa dikontribusikan ke depan. Serta memberikan wadah bagi mereka yang ingin mengekspresikan diri,” ungkap Afandi

Lebih lanjut, Afandi juga menjelaskan, bahwa sepatutnya masyarakat Lamongan tidak melupakan sejarahnya, hal itu dikarenakan semuanya tidak bisa lepas dari sejarah itu sendiri. Menurutnya, sejarah masa lampau adalah bagian dari pemantik agar masyarakat bisa mengukir nilai-nilai sejarahnya sendiri, dalam arti nilai-nilai sejarah yang universal.

“Di sini, banyak teman-teman yang memiliki latar belakang yang berbeda. Tetapi dengan perbedaan tersebut, bagaimana persoalan yang ada bisa kita pecahkan bersama-sama. Serta membentuk kesadaran kolektifitas, take and give, ada umpan balik, diskusi bareng, kita bisa jadi lokomotif kepedulian terhadap pembangunan sosial,” jelasnya kepada beritajatim.com

Sebagai lembaga swadaya masyarakat yang melakukan kontrol terhadap kebijakan yang dibuat, Afandi mengaku, pihaknya akan terus melakukan pengawalan. Hal tersebut dilakukan agar pemerintah tidak terkesan mendominasi.

“Adanya partisipasi masyarakat itu penting, segala perencanaan pembangunan harus dibangun atas dasar bottom up. Kita definisikan bahwa partisipasi itu holistik, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai monitoring evaluasi. Tak terkecuali visi dan program kerja Bupati Lamongan, terus kita kontrol. Sebagai pembanding, pemantik, biar tidak ada dominasi satu arus, karena dalam pembangunan semua butuh sinergitas, agar jadi lebih baik,” sambungnya.

Sementara itu, Syarif Hidayatullah, Dosen di salah satu kampus Lamongan yang juga narasumber dalam kegiatan tersebut memaparkan, ia merasakan keprihatinan di tengah membludaknya arus informasi, generasi millenial hanya fokus pada gadgetnya, tetapi tidak faham tentang akar sejarahnya sendiri, baik sejarah budaya maupun masyarakatnya. Menurutnya, kalau tidak ada yang mengingatkan akan mengkawatirkan dan berimbas pada wajah Lamongan nantinya.

“Jangan sampai kita lost generation, karena belajar sejarah itu bicara sustainabilitas atau kesinambungan. Bagaimana kita memoderasi nilai sejarah ke generasi sekarang. Okelah zaman sekarang milik mereka (millenial), tapi juga harus diingatkan bahwa kita punya leluhur, biar ada benang merah dan tidak kepaten obor. Sudah tak perlu lagi, kita memperdebatkan bahwa sejarah itu penting atau tidak, toh kitab suci kita sebagian besar isinya pun tentang sejarah, nabi-nabi dan umat terdahulu,” terangnya

Lebih mendalam, Syarif juga menjelaskan terkait beberapa hal yang dijadikan sebagai ikon Kabupaten Lamongan, salah satunya adalah Bandeng Lele. Dijadikannya Bandeng Lele sebagai simbol Lamongan ini bukan secara tiba-tiba, begitu pun dengan simbol-simbol lain di Lamongan, semua memiliki akar sejarahnya masing-masing.

“Tapi kenapa justru tradisi lelang Bandeng itu ada di Gresik, padahal kan ikonnya ada di Lamongan. Bandeng Lele itu Simbol Lamongan. Mestinya dengan dukungan Pemerintah, petambak itu harus punya ide brilian bagaimana tambaknya memiliki kualitas yang mengungguli Kabupaten lainnya, masyarakat kita seharusnya lebih kreatif untuk meningkatkan kualitas,” papar Syarif saat diwawancarai.

Syarif melanjutkan, setidaknya ada agenda tahunan atau wisata kuliner yang digelar sehingga bisa memicu para petambak untuk melakukan penangkaran ikan bandeng lebih baik lagi. “Masak simbolnya di sini tapi tradisinya malah ada di sana,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Dr.(HC) Syahrul Munier yang diminta khusus untuk bercerita sejarah Sunan Drajat dalam kegiatan ini menuturkan, bahwa geneologi Sunan Drajat yang ia sampaikan itu di antaranya berasal dari Kitab Ahlal Musamaroh Fi Hikayat Al-Auliya Al-Asyroh karya Syekh Abul Fadhol As-Senori dan buku Atlas Walisongo karya KH Agus Sunyoto.

“Dari beberapa referensi, dikatakan bahwa Raden Qasim atau Sunan Drajat ini salah seorang anggota Wali Songo, majelis penyebar agama Islam dalam sejarah Jawa yang merupakan putra bungsu Sunan Ampel dan cucu dari Syekh Ibrahim Asmoroqondi putra Syekh Jumadil kubro dari Samarkand Uzbekistan, Beliau menimba ilmu keIslaman langsung dari ayahnya, Sunan Ampel, yang memimpin pondok pesantren Ampeldenta, Surabaya. Beliau juga pernah berguru ke Sunan Gunung Jati,” papar pria yang akrab disapa Gus Syahrul tersebut.

Saat diwawancarai, Gus Syahrul juga mengungkapkan, bahwa ajaran Islam yang didakwahkan Raden Qasim lebih menekankan pada etos kerja keras, kedermawanan, sikap tenggang rasa, saling peduli, pengentasan kemiskinan, gotong royong, dan solidaritas sosial. Sehingga hal tersebut perlu diteladani oleh masyarakat hari ini, khususnya Lamongan.

“Sunan Drajat itu dakwahnya juga lewat seni dan budaya, beliau juga mahir menggubah tembang, salah satunya tembang tengahan macapat pangkur, tentang ajaran falsafah kehidupan. Bahkan, beliau pandai mendalang sebagai sarana dakwahnya, dibuktikan dengan peninggalannya yang masih disimpan hingga sekarang, yaitu seperangkat gamelan yang disebut ‘Singo Mengkok’ dan benda seni lainnya,” jelas Gus Syahrul.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, dalam kegiatan temu kangen ini diterapkan protokol kesehatan yang ketat. Banyak berbagai tokoh, akademisi, serta sejarawan Lamongan yang turut membersamai. Meski digelar secara sederhana, kegiatan berjalan khidmat mulai awal hingga akhir.[riq/kun]



Apa Reaksi Anda?

Komentar