Gaya Hidup

Teknik Pointilisme Rajiman, Begini Kata Pengamat Seni Rupa

Surabaya (beritajatim.com) – Pointilisme merupakan aliran seni lukis yang tidak banyak dipakai. Tetapi Rijaman, pelukis asal Surabaya, memakai teknik ini selama bertahun-tahun.

Demikian diungkapkan oleh pengamat seni rupa sekaligus dosen Seni Rupa Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Agus Koecink, Selasa (10/3/2020). “Teknik ini sebenarnya teknik dasar yang diberikan pada tingkat sekolah, tetapi tidak banyak yang menjadikannya teknik oleh pelukis, yang saya tahu, Pak Rijaman satu satunya yang menggunakan teknik di Surabaya,” ujarnya.

Agus memaparkan, kekuatan teknik pointilisme adalah dari rangkaian titik-titik yang digunakan. Rangkaian titik titik itu mampu membentuk satu kesatuan bangun dan rupa, tanpa adanya garis sama sekali.

“Teknik ini (pointilisme, red) kuat karena rangkaian titik-titik itu, bagaimana titik mampu membentuk pohon, sungai dan sebagainya hanya berasal dari sebuah titik,” terang Agus yang juga seorang pelukis sekaligus pengajar di LB Visual Communication Design Universitas Ciputra Surabaya ini.

Agus mengamati, lukisan lukisan Rijaman kebanyakan bertema naturalis, yang artinya mengambil pemandangan alam atau lanskap alam yang memiliki corak cerah dan hijau. Terlebih teknik pointilisme juga tidak bisa hidup tanpa kekuatan pengamatan dan pengaplikasian cahaya. Agus menuturkan teknik yang pertama kali dikembangkan oleh Georges Seurat dan Paul Signac pada tahun 1886 ini berasal dari kekuatan kombinasi titik dan pencahayaan.

“Teknik ini teknik dasar, tetapi tidak akan bisa jadi indah kalau pelukisnya tidak bisa mengaplikasikan pencahayaan dengan baik. Pada dasarnya teknik pointilisme ini juga tipe teknik yang bisa dipakai untuk penciptaan outdoor. Karena di luar ruangan tangkapan cahaya lebih baik dan kompleks sedangkan kalau di studio cahaya hanya didapat dari lampu. Saya rasa Pak Rijaman pasti lebih sering melukis outdoor,” tukasnya.

Agus menerangkan bahwa Pointilisme merupakan yeknik yang mudah tetapi dalam pengaplikasiannya cukup rumit dan kompleks.

“Teknik ini butuh ketelatenan yang tinggi, jadi saya bisa bilang Pak Rijaman sangat telaten, teliti dan tekun. Karena setiap karya dan cara membuatnya bisa merefleksikan diri pembuatnya,” pungkas Agus Koecink. [adg/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar