Gaya Hidup

Tari Sufi yang Membumi dan Hadirnya Rumah Cinta di Lamongan

Lamongan (beritajatim.com) – Tarian sufi yang biasanya hanya dipentaskan di pesantren, kini lebih membumi di Kabupaten Lamongan dan bisa tampil di banyak acara. Banyak anak-anak hingga orang dewasa yang bergabung di dalamnya. Mengenalkan seni tari sekaligus melakukan syiar Islam.

“Alhamdulillah, semakin banyak yang mengenal Tari Sufi, mulai anak-anak hingga dewasa, laki-laki dan perempuan,” ujar Moh Abdullah Madjid, Penggiat Tari Sufi, mengawali cerita tentang perkembangan Tari Sufi di Kabupaten Lamongan, Sabtu (15/5/2021).

Selama dua tahun terakhir, tarian yang diciptakan oleh Filsuf Persia yang bernama Jalaludin Rumi itu semakin dikenal. Geliat tersebut terlihat di Kecamatan Ngimbang.

“Sekarang setiap ada acara jamaah dziba, pengajian, bahkan walimahan juga biasa digelar Tari Sufi,” terang pria kelahiran 1990 tersebut sambil tersenyum kepada beritajatim.com

Pria yang akrab disapa Mbah Dul tersebut lantas mengisahkan, sebelum tahun 2019, di daerah Ngimbang masih banyak yang asing dengan tarian yang sudah ada sejak abad ke 13 ini. Bermula dari kegiatan Tadris yang dilakukan beberapa santri dari Pesantren Ihyaul Ulum Gilang Babat Lamongan, masyarakat Ngimbang mulai diperkenalkan dengan tarian Sufi.

Seiring berjalannya waktu, tarian ini semakin berkembang. Banyak masyarakat Ngimbang yang ingin belajar tari Sufi. Saat ini ada ratusan anak-anak dan orang dewasa yang menggandrunginya. “Akhirnya berdirilah Tarian Sufi Ngimbang secara resmi pada 17 mei 2019,” sambung Mbah Dul.

Setahun setelah Tari Sufi ada di Ngimbang, muncul Rumah Cinta yang dinahkodai oleh Ilham Krismana, bermarkas di depan pasar Dusun Kambangan Desa Lamongrejo Kecamatan Ngimbang Lamongan.

“Sekarang Rumah Cinta ini menjadi wadah dari Tari Sufi. Kehadirannya menjadi spirit baru bagi Tari Sufi untuk terus berkembang di wilayah ini,” kata Mbah Dul.

Untuk latihan, biasanya mereka memanfaatkan waktu libur ngaji untuk latihan bersama. Sedangkan bagi pemula, berlatih tiap hari di luar jam ngaji, setelah salat Isya. “Untuk yang masih pemula, kami tekankan untuk berlatih tiap hari, tapi untuk yang sudah bisa menari, biasanya diadakan latihan bersama sebulan sekali,” ungkapnya.

Meski beberapa bulan ini mereka tak bisa tampil di atas panggung akibat pandemi Covid 19, namun hal itu tak menyurutkan semangat anak-anak Rumah Cinta untuk tetap rutin latihan. Demi mematuhi protokol kesehatan, latihan dilakukan secara terbatas.

Beberapa agenda yang telah direncanakan, Mbah Dul mengaku, terpaksa ditunda atau bahkan ada yang dibatalkan. Karena masa pandemi yang belum reda, sehingga kondisinya tidak memungkinkan.

Penari sufi yang tergabung dalam Rumah Cinta ini didominasi anak-anak. Meski demikian, mereka terbilang sudah jago. Dengan mengkombinasikan berbagai gerakan, seperti menari, berputar sambil melepas baju, dan memakainya kembali.

“Tidak pandang usia, kuncinya Tari Sufi itu ada keinginan yang kuat dan kecintaan. Diniati untuk mendapatkan ridlo dari Allah. Soal pakaian, mereka membelinya secara mandiri, meski awalnya saya belikan, urunan sama ketua Rumah Cinta saat ini, mas Ilham Krismana,” tuturnya.

Seperti yang terlihat, warna kostum yang dipakai Tari Sufi merupakan representasi gambaran dunia dengan segala warna-warninya. Menurut Mbah Dul, hal itu menggambarkan bagaimana hati yang tidak tergoda dengan materi, dan fokus pada Sang Pencipta.

Tari sufi tergolong tarian yang fleksibel. Artinya tarian ini bisa dilakukan dengan iringan berbagai aliran musik. Mulai dari musik modern, gambus, rebana, bahkan hanya bacaan salawat tanpa iringan musik. Lamanya tarian tergantung dari musik atau iringan salawat. Diawali dengan melakukan salam penghormatan, kemudian secara perlahan penari berputar berlawanan arah jarum jam.

Tari religius ini merupakan bentuk meditasi yang dituangkan dalam bentuk tari-tarian. Karena dalam tarian ini diselipkan doa-doa, dzikir dan lantunan ayat-ayat suci menyebut kebesaran Allah SWT.

Sekarang, para penari yang tergabung dalam Rumah Cinta memiliki banyak agenda rutin, di antaranya diskusi tiap bulan, bersih-bersih masjid tiap Jumat, bank sampah tiap minggu, santunan anak yatim tiap Jumat, latihan bareng sebulan sekali, dan beberapa event lainnya.

Hingga hari ini, bukan hanya masyarakat di Kecamatan Ngimbang yang melakukan tarian religius dari Turki ini, bahkan kharisma Tari Sufi ini juga merembet ke desa-desa di kecamatan Bluluk dan sekitarnya.(kun)



Apa Reaksi Anda?

Komentar