Gaya Hidup

Taman Bunga Refugia di Kampung Organik Brenjonk Trawas, Koreanya Mojokerto

Taman Bunga Refugia di Kampung Organik Brenjonk Desa Penanggungan, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto. [Foto: misti/bj.com]

Mojokerto (beritajatim.com) – Kampung Organik Brenjonk di Desa Penanggungan, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto tak hanya menyuguhkan hasil tanaman organik di bawah kaki Gunung Penanggungan. Namun saat ini juga ada Taman Bunga Refugia yang menjadi jujukan wisatawan.

Wisatawan yang datang karena daya tarik bunga pengusir hama ini, menjadikan Taman Bunga Regufia disebut sebagai Koreanya Mojokerto. Ada dua jenis bunga refugia yang ditanam di Kampung Organik Brenjonk ini yakni bunga kenikir dan bunga kertas, namun saat ini banyak bunga kenikir yang tumbuh.

Bunga kenikir yang ditanam para petani yang tergabung di Kampung Organik Brenjonk ini menyugukan panorama yang cukup indah. Dengan warna bunga kuning, juga menyuguhkan pemandangan nan indah. Ini lantaran di sisi utara tampak Gunung Penanggungan dan di sisi selatan tampak Gunung Welirang, lengkap dengan sawah berbentuk terasiring.

Banyaknya wisatawan yang datang menjadikan Taman Bunga Refugia ini ramai dikunjungi wisatawan. Terutama saat akhir pekan. Wisatawan pun tak harus mengeluarkan uang banyak, lantaran pengelola tak mematok tiket masuk. Karena hanya Rp5 ribu untuk parkir yang dimasukkan ke dalam kotak yang disediakan.

Namun untuk wisatawan yang membawa kendaraan roda empat, dibutuhkan waktu dan tenaga. Ini lantaran di sekitar Taman Bunga Brenjonk tak ada lahan parkir untuk roda empat sehingga wisatawan harus berjalan kaki, meski sudah lumayan bagus jalannya namun jalan menanjak.

Meski begitu, pemandangan alam di sekitar perjalanan cukup menyejukan sehingga tidak ada terasa saat berjalan cukup jauh. Hamparan tanaman padi yang hijau dengan pemandangan Gunung Penanggungan dan Gunung Welirang menambah daya tarik. Sampai di lokasi Taman Bunga Refugia, hamparan bunga warna kuning pun terhampar luas.

Direktur Kampung Organik Brenjonk, Slamet (50) mengatakan, Kampung Organik Brenjonk berdiri di atas lahan persawahan seluas 5 hektar yang dimiliki 40 petani warga sekitar. “Lokasi ini adalah wisata kuliner sawah organik, untuk mendukung kita bangun daya tarik wisata berupa taman refugia,” ungkapnya, Sabtu (3/10/2020).

Inisator Kampung Organik Brenjonk ini menjelaskan, Taman Bunga Refugia memiliki tiga bukti fungsi. Pertama, menciptakan musuh alami karena bunga refugia merupakan predator alami hama sawah. Wereng, capung, hama penyakit tanaman padi dilawan oleh predaktor tersebut.

“Yang kedua adalah untuk kebutuhan sayur-sayuran sehat karena ini bisa dikonsumsi, daun bunga kenikir bisa untuk urap-urap dan lalapan. Yang ketiga untuk daya tarik wisata kawan-kawan ke sini bisa selfie, bisa foto, prewedding, bisa buat video. Jadi intinya daripada kita jauh-jauh ke Korea, di sini sudah cukup,” katanya.

Slamet menambahkan, satu petani menyiapkan satu petak untuk menanam bunga refugia. Sebelumnya tanaman padi yang dihasilkan 1 kwintal, bisa menjadi 1,5 ton. Inilah yang menjadikan tujuan bunga refugia ditanam untuk ketahanan ekonomi. Petani tidak akan menjual tanahnya namun sudah menghasilkan dari tanaman yang ada.

“Ramianya Sabtu-Minggu. Jika datang ke Taman Bunga Refugia di Kampung Organik Brenjonk bisa santai, rileks dan jaga jarak. Karena luasnya 5 hektar dan masing-masing petani punya satu warung yang ditanami bunga refugia. Sehingga banyak wisatawan yang datang kesini menjuluki sebagai Koreanya Mojokerto,” ujarnya.

Menurutnya, Kampung Organik Brenjonk sudah didirikan sejak 12 tahun lalu, namun untuk Taman Bunga Refugia baru satu tahun ini. Sementara hasil panen di Kampung Organik Brenjonk seperti beras dan sayur mayur sudah bisa dikirim ke Surabaya setiap hari Senin dan Kamis.

“Kita sudah punya sertifikat organik, Senin dan Kamis hasil panen para petani dikirim ke Surabaya. Yakni aneka sayuran. Untuk beras kita juga kirim ke Bulog, ada beras merah, hitam coklat dan biasa. Beras merah cocok ditanam di sini, karena beras merah memiliii serat tinggi sehingga saya dijual harganya mahal,” jelasnya. [tin/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar