Gaya Hidup

Sidoarjo Tawarkan Beragam Topik Kritik Sastra

Sidoarjo (beritajatim.com) – Beragam topik kritik sastra ditawarkan para intelektual muda Sidoarjo. Mulai dari topik sastra sufi, sastra emak-emak, sastra kampus, sastra perlawanan, ekosistem sastra, dan kajian-kajian teks karya sastra.

Beragam topik itu ditawarkan oleh peserta saat mengikuti Pelatihan Kritik Sastra, yang digelar Dewan Kesenian Sidoarjo bersama Bait Kata Library dan web Sastrasidoarjo.com, selama 2 hari, Sabtu – Minggu (24 – 25 April 2021), di Dekesda Art Center, Sidoarjo. Pelatihan diampu oleh Ribut Wijoto dari Komite Sastra Dekesda.

Topik sastra sufi dilontarkan oleh Fahruddin. Intelektual muda yang baru 3 bulan pulang kuliah di Maroko ini melihat bahwa tradisi sastra sufi sudah terbangun lama dalam sastra Indonesia, jauh sebelum Indonesia merdeka. Sayangnya, akhir-akhir ini, sangat jarang sastrawan Indonesia yang secara intens menekuni sastra sufi.

Sastra emak-emak adalah istilah baru dalam khazanah sastra Indonesia. Istilah ini dimunculkan oleh Yekti Pitoyo. Dia berkaca pada kegiatan komunitas penulis Sidoarjo khusus perempuan, yakni Pena Perajut Aksara. Anggota komunitas itu terdiri dari wanita-wanita yang kebanyakan sudah berumah tangga atau biasa disebut emak-emak. Yekti Pitoyo melihat, fenomena sastra emak-emak sebenarnya tidak hanya muncul di Sidoarjo tetapi juga di kota-kota lain di Indonesia.

Wahyu Agustin menawarkan kajian bertopik ekosistem sastra Sidoarjo. Menurutnya, ekosistem sastra Sidoarjo dalam beberapa tahun terakhir belum terlalu kondusif. Antara pemda, komunitas, dewan kesenian, dan sastrawan kurang terjalin sinergi. Cenderung jalan sendiri-sendiri sehingga keberadaan mereka kurang dikenal oleh masyarakat umum.

Fenomena sastra kampus dibahas oleh Harris Frismananda. Menurutnya, banyak sastrawan yang memulai proses kreatif di kampus, yakni saat mereka berstatus mahasiswa. Sehingga menarik untuk diteliti aktivitas dan karya-karya dari sastrawan kampus.

Adapun topik sastra perlawanan diusung oleh Hasan ID. Bermula dari dari pertanyaan ‘Masih Perlukah WS Rendra Saat Ini?”, Hasan melihat proses kreatif dan karya puisi penyair muda Sidoarjo, yaitu Saddam Achmad. Hasan melihat bahwa kepenyairan Saddam Achmad seperti meneruskan tradisi puisi perlawanan dari WS Rendra. Mulai dari tema-tema, gaya bahasa puisi, maupun cara Saddam membaca puisi di depan publik.

“Pelatihan kritik sastra ini dimaksudkan untuk mengikis jomplangnya jumlah sastrawan dan jumlah kritik sastra di Sidoarjo. Sebab saat ini, jumlah sastrawan sangat banyak sedangkan jumlah kritikus sastranya sangat sedikit,” ujar Rafif Amir, Komite Sastra Dekesda sekaligus koordinator website Sastrasidoarjo.com. [but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar