Iklan Banner Sukun
Gaya Hidup

Serunya Menikmati Karya Lukisan I Made Gunawan Sambil Lihat Pengolahan Teh

Surabaya (beritajatim.com) – Menambah value yang sudah ditanamkan oleh Villa sebagai merek teh, sebuah galeri seni didirikan. Menjadi sebuah area baru untuk menuangan ekpsres seni yang digagas oleh Ronald Sitolang, salah satu tim dari teh villa ini tak sengaja, tercetus begitu ketika pandemi tengah melanda.

Hanya berangkat dari kecintaan pada seni rupa. Yang tumbuh begitu saja sejak tertarik membeli lukisan seorang seniman di Bali. Semula hanya untuk menghiasi kantornya sekaligus tempat pabrik Teh Villa atau PT Karya Mas Makmur di Jalan Rungkut 11/53 Surabaya.

Secara kilat, galeri seni itu pun terbentuk. Menempati ruang-ruangan yang ada sejak dari front office. Ruang yang semula sudah terasa nilai seninya makin bertambah nilainya. Dengan view terbaik yang mengarah pada kesibukan para pekerja mengemas teh-teh.

Mungkin inilah yang akan membedakan Villa Art Gallery dengan galeri seni yang lain di Surabaya. Mencoba memberikan pengalaman yang berbeda agar pencinta seni di Surabaya memiliki alternatif menikmati karya-karya seni bermutu. Terlebih bisa mendukung Surabaya bertambah ruang seni baru yang menampung karya-karya seniman.

Menggandeng pelukis I Made Gunawan dari Bali. la menjadi seniman pertama yang menandai dibukanya galeri seni milik teh Villa/PT Karya Mas Makmur.

“Saya membawa karya 30 karya yang terdiri dari akrilik di atas media kanvas dan kertas. Sesuai judulnya LIVING HARMONY, pameran ini membawa pesan pada semua bahwa kehidupan haruslah harmonis. Semua tertampa dalam karya I Made Gunawan,”ungkap Made Gunawan, Sabtu (11/12/2021).

Pada karya yang dipamerkan, I Made Gunawan memamerkan karya lukisan kombinasi teknik seni lukis tradisi dan modern artinya esensi konsep bereksperimen melukis figur-figur sederhana yang saya distorsi menjadi bentuk figur sesuai imaji saya.

“Pada karya-karya yang saya hadirkan ini berangkat dari obsesi saya pada ‘Makara’, yakni figur mahluk legendaris dalam mitologi Hindu. Bagi saya Makara merupakan hewan air dan digambarkan sebagai kendaraan Dewa Baruna. Saya tertarik Makara karena perpaduan figur gajah dan ikan, babi dan ikan, buaya dan ikan yang kemudian bisa saya kembangkan dengan cara mendepormasi bentuk-bentuk figur binatang,”ungkapnya.

Selanjutnya, saya banyak bereksperimen dengan berbagai objek. Saya seperti ingin terus bereksplorasi dengan berbagai bentuk seperti wanita, gajah, ikan, akar-akar, burung, anak-anak bergelantungan, pohon, padi, rahang buaya, babi dan bentukbentuk imajiner lainnya.

Alat-alat musik yang melengkapi figur-figur, menjadi wilayah eksplorasi saya. Biola, kendang, rebab, dan alat gamelan lainnya terus saya olah dalam memburu capaian estetik.Pada periode tertentu, figur gajah menjadi pergulatan kreatif saya. Di sini, bisa disimak pada karya saya gajah merah dan gajah biru. Saya mengeksplorasi figur gajah dengan imajinasi saya sendiri.

Dari kreasi figur-figur gajah imajinatif khas saya itu, muncullah wacana Ganeshi. Munculnya gagasan Ganeshi karena refleksi atas kekerasan, pelecehan seksual dan diskriminasi gender yang acap terjadi? Saya hanya berupaya menggali pemikiran tentang konsep-konsep kultural, fenomena sosial, gender, dan filosofi realita kehidupan.

Selain itu, saya juga melakukan eksperimen lain. Yakni memainkan objek sentral elemen-elemen pendukungnya. Yang saya maksud dalam hal itu adalah ketika gajah menjadi objek sentral dan figur orang menjadi elemen, suatu saat gajahlah yang elemen dan figur orang jadi obyek sentral.[way/ted]


Apa Reaksi Anda?

Komentar