Gaya Hidup

Sepatu Rajut Mulai Dilirik di Mojokerto

Mojokerto (beritajatim.com) – Berawal dari melihat sang ibu membuat taplak meja rajut, warga Desa Ngastemi, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto ini terjun ke bisnis kerajinan rajut. Berbagai barang dibuatnya di sela-sela waktunya sebagai guru di salah satu pondok pesantren (ponpes) di Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto.

Dia adalah Febri Martha (30). Diakuinya, bisnis kerajinan rajut sudah ada lama di Mojokerto, namun untuk sepatu rajut baru masuk di Mojokerto sejak dua tahun lalu. Meski begitu, mantan penyiar radio di Mojokerto ini juga menerima pesanan barang rajutan lainnya sesuai permintaan konsumen.

“Awalnya liat ibu merajut, waktu itu dibuat sendiri bukan untuk dijual kemudian minta diajari. Saat itu masih kelas IV SD. Saya ikut belajar saat ibu merajut dan saya masih ingat hasil rajutan pertama saya adalah kantong untuk uang untuk lebaran. Warnanya hitam dan merah tapi saat itu benang jenis siet,” ungkapnya, Selasa (15/1/2019).

Febri akhirnya terjun ke dunia kerajinan rajut sejak dua tahun ini. Awalnya ia juga tidak kepikiran terjun di dunia kerajinan rajut, semua bermula saat ada teman yang pesan dibuatkan tas rajut. Awalnya Febri mengaku kurang percaya diri dengan hasil karyanya karena belum bergabung dengan perajut di Mojokerto.

“Tapi teman saya suka dengan hasil rajutan saya sehingga saya percaya diri kemudian gabung komunitas di Jatim setahun yang lalu dan di Mojokerto. Banyak perajut di Mojokerto dan tidak fokus satu barang saja tapi yang lagi trend saat ini, lebih ke sepatu rajut,” katanya.

Menurutnya, karena sepatu rajut baru muncul di Mojokerto dibanding tas rajut yang sebelumnya dikenal lebih dulu. Namun di luar Mojokerto, sepatu rajut sudah ada sejak tiga tahun lalu, seperti Bandung dan Jogjakarta. Namun demikian menueut Febri, hasil rajutan yang lebih bagus buatan Bandung karena jenis benang rajut yang dipakai.

“Jenis benang pun banyak, namun yang umum katun. Karena katun lebih nyaman dan adem untuk sepatu. Berbeda dengan tas, kalau tas lebih ke nilon karena kuat. Untuk bahan di Mojokerto ada sehingga tidak repot-repot harus ke luar kota. Pemesan juga bisa request sesuai keinginan atau melihat katalog,” katanya.

Pemesanan sendiri, tegas Febri, bisa dipesan sesuai deadline tapi minimal satu hari. Dengan catatan cash. Febri menjelaskan, untuk sepatu rajut ada dua jenis. Sepatu cover dan sepatu granny. Bedanya cover sepatu sudah jadi dan ada di pasaran seperti sepatu karet, plastik polosan tinggal ditutup rajutan di bagian atas.

“Kalau sepatu granny, perajut harus membuat rajutan mulai dari bawah. Untuk harganya berbeda, selain tergantung jenis rajutan, juga pilihan warnanya. Sepatu cover untuk dewasa mulai harga Rp120 ribu sampai Rp155 ribu. Untuk granny Rp165 ribu sampai Rp350 ribu. Anak-anak untuk cover Rp75 ribu sampai Rp100 ribu, granny Rp80 ribu sampai Rp120 ribu,” jelasnya.

Harganya berbeda karena sepatu rajut granny cukup membutuhkan tenaga yang ekstra dibanding sepatu rajut cover. Dalam satu minggu, anak kedua dari tiga bersaudara ini bisa memenuhi pesanan sampai empat pasang sepatu granny. Peminat sepatu rajut cukup banyak tapi karena masih mahal banyak juga yang membatalkan.

“Tapi jika konsumen suka yang unik, harga berapapun akan dipesan. Untuk waktu pengerjaannya, saya kerjakan setelah dari mengajar. Saya mengajar mulai pukul 07.00 WIB sampai 12.00 WIB tapi kadang saya bawa ke sekolah dan selalu ada di jok sepeda motor. Saya kerjakan saat jam istirahat, pokoknya kalau lagi menunggu saya manfaatkan untuk merajut,” tuturnya.

Febri menambahkan, saat hari libur menjadi waktu kerja yang sebenarnya. Media online masih menjadi andalan sebagai media promosi seperti Instagram (IG) dan Facebook (FB). Untuk IG yaknu @martha.crochet dan Facebook Febri Martha. Febri mengaku Media online cukup membantu.

“Iya, saat pesanan banyak, pesanan akan saya berikan ke perajut yang lain yang masih satu komunitas karena di Mojokerto cukup banyak perajut. Alhamdulillah sampai saat ini, tidak pernah dikomplain dengan hasil rajutan saya karena tidak sesuai pesanan namun justru dikomplain meminta agar cepat jadi. Mungkin pingin segera pakai,” ceritanya.

Namun pengalaman pahit pun pernah dialami, ada yang pesan tas tapi dilempar ke perajut yang lain. Pernah dikomplain karena tidak sesuai dengan pesanan sehingga ia harus mengganti sesuai dengan harga tas tersebut. Saat ini, jika ada pesanan tas rajut diambil sendiri atau diserahkan ke perajut yang sudah ia percaya.

“Tas juga menerima tapi masih ramai sepatu, untuk harga tas slempang mulai Rp185 ribu sampai Rp600 ribu, tas ransel Rp250 ribu sampai Rp700 ribu. Tergantung ukuran, jenis benang, pola rajutan dan pilihan warna benang. Saya juga buat baju bayi tapi lebih saya sewakan kerjasama dengan fotografer di Mojokerto,” urainya. [tin/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar