Gaya Hidup

Seniman Bicarakan Ruang Virtual dan Seni Avantgarde di Tengah Pandemi.

Surabaya (beritajatim.com) – Pandemi banyak mengubah pola perilaku sehari-hari, seperti halnya pola kesenian. Kesenian hari ini terkungkung ruang geraknya karena ruang ruang publik tidak dibuka bebas.

Hal itu membuat banyak pelaku seni, banyak yang kehilangan mata pencahariannya, terlebih itu esensi seni dan apresiasi juga menjadi tergerus. Membicarakan hal ini, Kharis Junandaru Musisi Silampukau, Afrizal Malna Penyair dan Pengiat Seni, dan Ayos Purwoaji sebagai Kurator Seni sepakat bahwa ruang seni di masa pandemi menjadi seksi untuk dibicarakan dan diperjuangkan ruang geraknya.

Kharis mengatakan bahwa sebagai seniman dan musisi, Pandemi telah mempersempit esensi sebuah pertunjukan karena saat ini mau tidak mau pertunjukan langsung harus beralih ke ruang virtual. Ia pun mengatakan peralihan dari pertunjukan langsung ke ruang virtual tidak terelakkan, bahkan ia bersama teman temannya saat ini mengembangkan sebuah platform Karangtv.com untuk memfasilitasi kebutuhan seniman dan penikmatnya.

“Platform online saat ini merupakan sekoci yang lumayan saat pandemi. Tapi platform seperti ini membuat nilai liveness moment yang tidak terulang menjadi terreduksi. Sifatnya pun eksperimental untuk keadaan seperti ini,” ungkap Kharis, Kamis (6/8/2020).

Ayos pun mengatakan bahwa saat ini ada visualisasi besar besaran dari seniman, sehingga makin banyak ruang kreasi virtual. Ayos pun menambahkan bahwa terlepas dari itu, ruang virtual justru mampu menjadi pemerataan dalam kesenjangan langsung ruang publik kesenian yang selama ini terjadi.

“Sebelum adanya pandemi yang menjadi katalis kita untuk pindah ke ruang ruang virtual, kesenian sebelum itu tidak merata dan terjadi kesenjangan secara demografis. Tapi sejak pemanfaatan ruang virtual dalam kesenian ini justru memberikan pemerataan kesenian secara demografis sehingga dimana pun berada bisa dinikmati,” tukas Ayos.

Namun terlebih dari itu Afrizal meng-highlight kesenian di tengah pandemi ini, pasalnya ia memaparkan bahwa kejadian besar di dunia telah mengubah gerak kesenian, seperti halnya Letusan Krakatau, Flu Eropa hingga Perang Dunia 1 telah menggerakan siklus kesenian yang ada
Avantgarde.

“Kita masih bergerak pada euforia orkestasi layar, belum pada esensi perubahan yang radikal atau setidaknya bertumpu pada gerak kesenian dunia. Belum punya titik temu. Harusnya kejadian luar biasa seperti ini bisa membuat gerakan yang radikal dan tidak terjebak pada genre genre saja” pungkas Afrizal. (ted)





Apa Reaksi Anda?

Komentar