Gaya Hidup

Sejenak Menikmati Keindahan Pulau Cinta 

MENUJU PULAU CINTA di Gorontalo memang butuh perjuangan. Apalagi di masa pandemi seperti saat ini. Kita sudah harus berada di bandara jauh sebelum jam keberangkatan. Karena harus antri rapid tes, jika belum melakukan dalam dua pekan terakhir. Jika non reaktif baru bisa melanjutkan validasi dokumen hasil rapid tes. Semua dilakukan dengan menaati protokol kesehatan, menggunakan masker, menjaga jarak, dan sering membersihkan tangan, dengan sabun atau cairan pembersih.

Karena kebetulan jadwal penerbangan jam 5 pagi, saya sudah harus di bandara sekitar jam 2 pagi. Selepas subuh, pesawat pun terbang menuju Makassar. Beruntung dapat sarapan di pesawat untuk mengganjal perut yang dari tadi keroncongan. Sekitar jam 9 waktu setempat, tiba di Makassar untuk melanjutkan penerbangan ke Gorontalo pukul 11 siang. Karena lalu lintas penerbangan lumayan padat, pesawat baru bisa lepas landas hampir jam 12 siang. Sejam kemudian, akhirnya tiba Bandara Jalaludin Gorontalo.

Perjalanan masih panjang. Setelah istirahat dan makan siang, kami melanjutkan jalan darat lebih dua jam. Jalur yang berliku dan naik turun lumayan membuat perut mual dan pusing kepala. Tapi pemandangan indah, hamparan bukit hijau jadi pelipur sepanjang perjalanan. Akhirnya kami tiba di dermaga  Kecamatan Botumoito – Kabupaten Boalemo. Perjalanan selanjutnya harus menyeberangi laut. Hanya sekitar 20 menit. Tapi karena sudah sore, gelombang mulai tinggi, angin kencang, kapal motor pun gampang goyang, ke kiri ke kanan. Kadang terhempas. Tak lama dari kejauhan, Pulau Cinta mulai terlihat.

Begitu kaki menginjakkan di sudut dermaga, seolah segala letih hilang. Kami datang disambut senja nan indah di ujung ufuk. Hamparan pasir putih dan resort yang menjorok ke laut jadi sensasi tersendiri. Di Pulo Cinta hanya memiliki 15 bangunan yang dihubungkan dengan jembatan kayu yang kokoh dan membentuk hati atau simbol ‘love’. Ada 12 unit resort dengan fasilitas satu kamar tidur untuk dua orang, 1 unit  dengan fasilitas dua kamar tidur untuk empat orang dan satu unit dengan fasilitas 3 kamar tidur untuk enam orang. Kami menginap di unit terakhir. Juga ada restoran yang menyediakan makanan lezat dan sehat untuk para tamu. Selama menginap, hidangan yang disajikan tidak pernah mengecewakan.

Di resort yang kami tinggali, indahnya matahari terbenam bisa dinikmati dari kamar tidur, dan menyambut matahari terbit cukup dari ruang tamu. Saat pagi menjelang, kami beranjak mengelilingi pulau. Jembatan masih basah sisa hujan lebat semalam. Kebetulan awan mendung yang sempat datang cepat berganti langit biru. Setelah sarapan, kami pun langsung berenang di laut. Karena masih surut, kedalamannya hanya sekitar 50-100 cm. Tapi jangan salah, di kedalaman itu, kita sudah bisa menikmati keindahan bawah laut. Aneka koral, bintang laut, ikan pari, dan berbagai ikan warna warni menari di antara karang. Bahkan semua keindahan itu tetap bisa dinikmati dari resort karena jernihnya air.

Budi, salah satu pengunjung mengaku bukan pertama kalinya dia ke Pulau Cinta. Menurut Budi, saat berkunjung sebelum pandemi dirinya harus jauh-jauh hari untuk memesan penginapan di Pulau Cinta. Kondisi Pulau pun ramai dengan wisatawan. Tidak hanya domestik, tapi juga wisatawan manca negara. Sebaliknya, saat ini telatif sepi.

“Semoga pandemi segera berakhir,” harap Budi. (hen/ted)





Apa Reaksi Anda?

Komentar