Gaya Hidup

Bojonegoro East Java Film Festival

Screening 15 Karya Terbaik Dilakukan Dua Hari

Bojonegoro (beritajatim.com)Screening 15 karya film terbaik dalam ajang Bojonegoro East Java Film Festival (BEJaFF 2019), digelar selama dua hari, Kamis – Jumat (29-30/8/2019) malam. 15 karya film yang dipilih tersebut dengan kategori film fiksi dan dokumenter.

“Film yang lolos sebagai nominasi dan dipertontonkan publik dibagi dalam tiga sesi pemutaran. Jadi selama tiga hari akan berlangsung screening dan awarding day,” ujar Koordinator Kompetisi Rifaun Naim, Kamis (29/8/2019).

Naim menjelaskan, film yang di kempetisikan melalui dua tahap seleksi. Pertama, dewan juri akan mengakurasi karya yang mengikuti kompetisi secara terbuka. Kemudian tahap kedua akan memilih tiga film terbaik untuk ditetapkan sebagai Juara Pertama, Juara Kedua, Juara Ketiga. Para juara akan diumumkan pada saat Awarding Day 1 September 2019.

“Ketatnya seleksi yang dilakukan oleh kurator memang untuk menjamin kualitas film yang nantinya disaksikan oleh penonton. Harapan kami, ketika penonton yang datang dari berbagai kota, selain bisa menyaksikan film yang berkualitas, juga bisa menikmati pertunjukan musik dan pasar rakyat,” ujarnya.

Dewan Juri dalam BEJaFF 2019 ini terdiri dari penggiat film lokal maupun nasional di antaranya, Hendro Lukito, Agus Budiono, Husni Taufiq dan Amy Kamila. Sebagai penulis skenario dan promotor film, Amy Kamila punya kiprah di dunia perfilman dan pernah menggawangi beberapa film Indonesia.

“Jadwal BEJaFF 2019, pendaftaran kompetisi film dimulaiĀ  1 – 28 Agustus 2019, secreenig film 29 – 30 Agustus 2019, workshop film 1 September 2019, dan malam puncak penganugrahaan hadiah film terbaik diberikan di Awarding Day pada 1 September 2019,” pungkasnya.

Salah seorang peserta, Andre mengatakan, ia mengirimkan sebuah karya film dokumenter tentang budaya masyarakat di Kelurahan Jetak, Kecamatan/Kabupaten Bojonegoro. Budaya masyarakat yang disorot adalah bagaimana masyarakat mempertahankan musik lesung sebagai kesenian agraris.

“Dalam film itu, menyorot bagaimana mereka masih mempertahankan budaya yang hampir sudah tidak ditemui lagi,” ujarnya. [lus/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar