Gaya Hidup

Majelis Sastra Urban DKS

Sastra Kampus di Surabaya Dewasa Ini

Penyair Dian Putri ketika mengisi acara Majelis Sastra Urban #6 bulan Mei 2019

Surabaya (beritajatim.com) – Kantong-kantong sastra di Kota Surabaya, diakui atau tidak, lebih banyak terdapat di kampus. Sastra sebagai kegiatan berwatak intelektual dimungkinkan tumbuh subuh di kalangan mahasiswa.

Hanya saja, pertumbuhan kantong sastra tidak selalu sama di tiap kampus. Masing-masing kampus memiliki kendala dan potensi yang harus diurai lalu dipecahkan dan didorong untuk terus memacu proses kreatif penciptaan karya sastra.

Potensi dan problem kantong sastra di kampus itulah yang bakal dibahas dalam Majelis Sastra Urban #10 DKS (Dewan Kesenian Surabaya), Jumat (26/9/2019) besok malam. Bertindak sebagai narasumber adalah para pelaku sastra di kampus-kampus Surabaya.

Narasumber terdiri dari Firman Panipahan (UINSA), Aam Kamil (UNIPA), Adnan Guntur (UNAIR), Toriq Fahmi (UNESA), Oki Tama (UNTAG). Diskusi bakal dipandu oleh Arul Lamandau, seorang penggerak kebudayaan yang sekaligus musisi dan sastrawan.

Penulis naskah drama Dyah Ading Setyorini (narasumber) bersama Azhar Bashir (moderator) ketika mengisi acara Majelis Sastra Urban #9 bulan September 2019

“Melalui acara ini, kita berharap ada diskusi yang membahas pemetaan masalah kantong-kantong sastra di tiap kampus. Syukur-syukur nanti bisa membentuk jaringan komunitas sastra kampus Surabaya,” ujar Ribut Wijoto, koordinator Majelis Sastra Urban DKS, Kamis (26/9/2019).

Ribut juga berharap diskusi melebar pada peluang eksplorasi estetika sastra kekinian, sastra milenial. “Para pembicara adalah sastrawan-sastrawan muda, generasi milenial. Kita tentu berharap akan muncul juga pembicaraan tentang estetika sastra terkini, estetika yang milenial,” tuturnya.

Aciha Lubet Lubaidilah, salah satu Tim Kreatif Majelis Sastra Urban, menambahkan bahwa acara ini merupakan ruang lain dari penyampaian aspirasi mahasiswa. Aspirasi dalam bentuk karya sastra.

Penyair Whe Haryanto ketika mengisi acara Majelis Sastra Urban #8 bulan Juli 2019

“Di sela-sela keriuhan, banyak mahasiswa turun ke jalan dengan berbagai tuntutan. Berhadapan dengan aparat bahkan saling dorong. Ada yang harus terluka, merasakan sakit, kecewa dan lain semacamnya. Tetapi potret ‘mahasiswa sisi lain‘ masih tetap ada yang terus dilakukan sesuai bidangnya. Merekalah yang tidak berhenti untuk belajar dan meneruskan tradisi kesusastraan,” papar Lubet.

Mahasiswa STKW yang berulangkali menyutradarai pementasan teater itu menjelaskan, proses bersastra memiliki cara dan memberikan warna yang berbeda-berbeda. “Maka dengan hadirnya kegiatan ini, paling tidak, kita bisa memetik apa yang sedang terjadi tentang kerja kesusastraan khususnya di dalam kampus. Saling memberikan informasi, jalinan sesama generasi milenial yang turut-serta meneruskan tradisi kesusastraan apa yang dilakukan pendahulunya dalam kampus,” kata Lubet.

Sementara itu, Ketua Umum DKS Chrisman Hadi mengaku akan terus memperjuangkan tumbuhnya generasi baru sastrawan di Surabaya. “Kita memfasilitasi mereka, memberi ruang diskusi dan eksplorasi bagi mahasiswa-mahasiswa yang berkiprah di bidang sastra. Sebab kita tahu, mereka-mereka itulah yang nantinya berkontribusi besar terhadap kesusastraan dan kesenian di Surabaya, bahkan juga nasional,” kata Chrisman. [but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar