Gaya Hidup

Sanggar Bagaskara Trowulan Gelar Majapahit Reborn

Salah satu penampilan dalam acara HUT Majapahit ke 727 di Sanggar Bagaskara.

Mojokerto (beritajatim.com) – Uri-uri budaya kembali ditunjukkan Sanggar Bagaskara di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Dengan menampilkan Majapahit Reborn dalam rangka peringatan Hari Pahlawan dan Hari Ulang Tahun Majapahit ke 727.

Di halaman Sekretariat Sanggar Bagaskara tampak puluhan anggota Sanggar Bagaskara dan warga sekitar berkumpul untuk menyaksikan Majapahit Reborn secara lesehan, Selasa (10/11/2020). Acara dibuka dengan Karawitan Gending Udan Mas yang tak hanya didominasi kaum laki-laki.

Penabuh gamelan juga ada dari emak-emak. Tak lama gadis kecil dengan kemben dan jarik membawa secarik kertas dan membacakan puisi berjudul Wilwatikta. Sebelum memasuki acara inti, penonton kembali disuguhi Karawitan Gending Gugur Gunung dan Geguritan dengan judul Titi Wanci yang dibacakan oleh Sekar.

Acara inti yang ditunggu-tunggu pun sampai yakni Kebo Giro yakni salah satu instrumen gending atau gamelan yang khusus diperdengarkan saat upacara pernikahan yang dilanjutkan Tari Bedoyo Majapahit. Acara ditutup dengan teatrikal puisi dan Gending Ibu Pertiwi.

Ketua Sanggar Bagaskara, Supriyadi mengatakan, acara tersebut merupakan kegiatan rutin dari Sanggar Bagaskara setiap tanggal 10 November. “Setiap 10 November, kita mengadakan dua acara sekaligus. Yakni dalam rangka Hari Pahlawan 10 November dan Hari Ulang Tahun Majapahit tanggal 12 November,” ungkapnya.

Sanggar Bagaskara mengambil dua moment tersebut agar bisa terangkat semua dan dihadirkan di tanggal 10 November. Yakni dengan menghadirkan segala kegiatan berbau tradisi dan nasionalisme. Keduanya diangkat karena mengandung pesan titipan budaya yakni bagaimana mencintai budaya setempat dalam hal ini Majapahit.

“Kalau bahasa gaulnya Majapahit Reborn. Karena ada berbagai seni tradisi, ada teatrikal, macapat, geguritan yang berbasis kebudayaan tradisi. Harapan kami dari Sanggar Bagaskara, ini sebagai pemicu desa-desa yang lain yang mana Trowulan sebagai kawasan cagar budaya dan kawasan strategis pariwisata,” ujarnya.

Acara tersebut diharapkan bisa sebagai motor penggerak dan bisa dicontoh desa-desa yang lain di Kabupaten Mojokerto. Supri (panggilan akrab, red) menambahkan, karena jika bergerak sendiri maka akan sulit untuk mengembangkan pariwisata. Ditambah saat ini, serbuan dari budaya asing dinilai sangat luar biasa.

“Sehingga kita berharap, boleh kita jadi generasi milineal tapi jangan lupa kita juga uri-uri atau melestarikan budaya leluhur kepada generasi milineal,” harapnya. [tin/ted]





Apa Reaksi Anda?

Komentar