Gaya Hidup

Sandur, Selain Sebagai Tontonan Juga Tuntunan

Bojonegoro (beritajatim.com) – Kelompok kesenian tradisional Sandur Kembang Desa yang ada di Kelurahan Ledok Kulon, Kabupaten Bojonegoro menggelar bincang sandur selama lima hari berturut-turut dengan mengusung tema yang berbeda setiap hari, Selasa (11/8/2020).

Bincang Sandur yang dikemas secara online itu dilakukan karena selama masa pandemi Covid-19 kelompok kesenian tradisional Sandur tidak bisa menggelar blabar janur kuning sebagai arena pertunjukan.

Sehingga untuk merawat ingatan dan tetap menjaga eksistensi kesenian yang sudah ditetapkan oleh pemerintah sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) itu digelar dalam bentuk mengunggah segi wacana dan pengetahuan dari para pelaku dan pemerhati Sandur.

Sesi pertama dilakukan kemarin malam dengan mengusung tema tentang makna filosofi Sandur dengan Narasumber Djagad Pramoedjito. Menurut pria yang juga sebagai pelaku kesenian tradisional itu, Sandur secara filosofis merupakan bentuk kiasan dunia dan kehidupan.

“Sandur secara luas bisa diartikan sebagai bentuk kiasan antara dunia dan kehidupan. Antara jagad besar dan jagad kecil,” ujarnya dalam sebuah diskusi.

Hal itu, lanjut dia, dipertegas dari beberapa unsur yang dihadirkan dalam pertunjukkan seperti, arena tempat pertunjukan (blabar janur kuning) sebagai bentuk representasi jagad besar (dunia). Selain itu juga ditunjukkan dari tembang (lagu), tembung (cerita), dan juga properti (alat).

Termasuk, anak wayang yang direpresentasikan sebagai jagad alit (dunia kecil) atau manusia itu sendiri. Dalam pertunjukkan Sandur, terdapat empat anak wayang yang mewakili empat sifat manusia. Serta satu yang menjadi pengendali pertunjukkan adalah Germo sebagai representasi blegere sukma (atau yang bersifat menggerakkan hati).

Dan elemen pendukung lain dalam sifat manusia, seperti jaranan sebagai representasi nafsu manusia. “Semua yang ada dalam pertunjukkan Sandur sebenarnya mengandung makna yang disembunyikan dan perlu kita gali lebih dalam lagi dengan pengetahuan yang lebih luas,” terangnya.

Sehingga, Sandur selain sebagai tontonan juga bisa sebagai tuntunan hidup manusia untuk mengetahui dari awal penciptaan hingga kembali kepada pencipta.

Sekadar diketahui, selain mengusung tema secara filosofis, bincang Sandur yang dikemas dengan live melalui media sosial Instagram itu, juga mengusung sejarah Sandur, perkembangan di masyarakat, cerita anak wayang, juga Sandur dalam perkembangannya. “Ini sebagai pemantik awal untuk bahan permenungan yang lebih dalam lagi,” ungkap salah seorang anggota kelompok Sandur Kembang Desa, Oky Dwi Cahyo. [lus/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar