Iklan Banner Sukun
Gaya Hidup

Sahabat Penyu Pacitan Ungkap Faktor yang Pengaruhi Populasi Penyu

Pacitan (beritajatim.com) – Banyak hal yang melandasi Cuboh Hember, Kristanto, Sabbas dan anggota komunitas Sahabat Penyu untuk seriusi penangkaran penyu dan upaya pelestarian lain. Bahkan, mereka sempat melakukan studi kehidupan penyu di 50 pantai di Pacitan untuk mengetahui apa saja yang membuat penyu atau pasiran bisa langka. Sekaligus, seberapa besar peran kepercayaan ataupu tradisi warga terhadap kelestarian penyu.

Dari studi yang mereka sebut Laku Utomo II selama lebih dari enam bulan di tahun 2019 lalu, ada beberapa hal yang tiga hal utama yang benar – benar mempengaruhi kelestarian penyu. Yakni, mitos warga terkait mengonsumsi daging penyu, adanya seseorang yang jadi dukun penyu, hingga kepercayaan para nelayan tradisional yang menghormati penyu.

Mitos warga yang sangat fatal adalah kepercayaan bahwa mengonsumsi daging penyu bisa memberikan kesaktian supranatural. Masyarakat menyebutnya ilmu banyon dimana yang paling kuat adalah berasal dari penyu. Masyarakat yang ingin memiliki kekuatan supranatural tertentu pasti bakal menangkap penyu dan menyantapnya usai dimasak.

“Cara menangkapnya juga tergolong kejam. Yakni dengan menjerat penyu yang ada di sarang berupa tebing curam, dibawahnya kan pasti ada penyu. Kemudian jika siripnya terjerat tali senar, warga bakal menariknya ke daratan,” kata Sabbas.

Warga Desa Pucangsewu, Kecamatan/Kabupaten Pacitan itu menyebut, meski ada kepercayaan demikian, ada satu hal yang membuat warga tak asal bunuh dan konsumsi penyu. Karena, sesuai tradisi warga perlu berkonsultasi pada dukun penyu. Dukun penyu yang bakal memperhitungkan sesuai kepercayaan warga setempat terkait waktu yang tepat. Utamanya untuk menyembelih ataupun mengonsumsi daging penyu agar bisa mendapatkan ilmu kanuragan yang diinginkan.

“Nah, yang ini kan di posisi tengah- tengah. Karena jika tanggal atau hari cocok sesuai apa yang dikatakan dukun ini, maka penyu pasti akan dimakan. Tapi, kalau tidak cocok, maka penyu bisa dikembalikan lagi ke laut. Setidaknya bisa jadi filter agar tidak asal menangkap atupun menyembelih penyu, bahkan menyantapnya,” terangnya.

Meski begitu, kepercayaan yang sempat santer di kawasan pesisir Pacitan ratusan hingga puluhan tahun lalu itu memang sempat membuat hewan reptil laut itu marak dijerat hingga dibantai. Juga, diperjualbelikan khususnya bagi yang ingin mendapatkan ilmu supranatural atau tradisi lain yang terkait dengan mengorbankan penyu.

“Sejak saat itu, penyu kan masuk dalam golongan hewan yang dilindungi, dan saat itu warga mulai mengurangi aktivitas tersebut. Meski masih ada yang melakukannya sembunyi-sembunyi,” ungkap Sabbas.

Namun, jauh sebelum ada imbauan tersebut, banyak nelayan tradisional Pacitan yang berhati mulia. Tiap mereka melihat penyu yang naik ke permukaan saat mereka melaut, mereka bakal mematikan mesin atau tidak melempar jaring. Para nelayan menganggap kalau penyu adalah hewan sakral dan tak boleh diperlakukan buruk atau akan ada hal buruk yang menimpa mereka jika nelat melukai atau bahkan menangkap penyu.

“Semakin ke sini kan sebenarnya banyak nelayan yang peduli dengan kelestarian penyu. Belakangan sudah ada beberapa nelayan yang memilih untuk merawat penyu yang terlanjur terjerat jaring dan dalam kondisi terluka, mereka meminta kami untuk melakukan rehabilitasi,” terang Sabbas.

Dia mengharap bukan hanya warga lokal Pacitan saja yang seriusi pelestarian penyu. Perlu peran besar pemerintah untuk turut menggencarkan edukasi ada masyarakat berikut dengan wisatawan yang datang ke Pacitan.

Sabbas dan kawannya masih terus melanjutkan pembelajaran terkait penyu. Juga, memaksimalkan edukasi yang membuat penyu benar-benar terlindungi dari predator alami maupun non alami. (fiq/kun)


Apa Reaksi Anda?

Komentar