Iklan Banner Sukun
Gaya Hidup

Sahabat Penyu, Komunitas Asal Pacitan yang Aktif Tangkar dan Rehabilitasi Penyu

Kunjungan mahasiswa saat akhir pekan untuk mengenal penyu dan bagaimana cara mengantisipasi dari kepunahan.

Pacitan (beritajatim.com) – Dua pria bertelanjang dada membawa jeriken ukuran dua puluh liter. Mereka menuju ke kawasan Pantai Pancer Door, Kelurahan Ploso, Kecamatan/kabupaten Pacitan.

Mereka bersusah payah mengambil air laut dan memenuhi jeriken untuk dibawa ke penangkaran yang berjarak sekitar 50 meter dari lokasi mereka mengambil air asin.

Mereka menggunakan sepeda motor untuk mengangkut jeriken penuh untuk kembali ke penangkaran. Air laut dalam jeriken dimasukkan dalam kolam berukuran sekitar tiga kali dua meter.

Dalam kolam buatan itu terdapat satu penyu hijau yang diperkirakan berumur 60 tahun dan tengah menjalani rehabilitasi. Air laut harus diganti setiap hari untuk menjamin kesehatan penyu yang dipanggil Andayani oleh komunitas sahabat penyu.

Adalah Cuboh Hember, warga setempat, berikut dengan rekan-rekan lain sekomunitas yang setia merawat penyu hijau itu. Lantaran, sebelumnya Andayani sempat terluka, dan bahkan ikut terjaring oleh nelayan.

Karena sang nelayan itu tak bisa melakukan rehabilitasi, dibawalah Andayani ke tempat Cuboh, yakni penangkaran penyu agar si penyu bisa pulih dan bisa dikembalikan ke laut lagi.

‘’Total sudah tiga bulan kami lakukan rehabilitasi. Cukup berat karena sehari lebih dari enam kilogram ikan yang dimakan. Sementara harga ikan mencapai Rp 25 ribu per kilogramnya. Kadang kami dapat bantuan dari nelayan untuk mencukupi kebutuhan makan penyu hiaju yang kami rehabilitasi ini,’’ terang Cuboh.

Komunitasnya memang tak langsung bergerak dalam bidang rehabilitasi penyu. Sejatinya, dia hanya memiliki kepedulian pada hewan reptil laut yang kini jumlahnya tak banyak itu. Dia menyelamatkan telur – telur penyu yang rawan rusak karena kemungkinan terjangan abrasi atau sengaja diambil oleh masyarakat sekitar.

Bahkan, saat musim bertelur penyu yakni pada sekitar bulan Juni dan Juli lalu, dia dan banyak rekannya melakukan patroli senyap untuk melihat apakah ada sarang penyu yang rawan terhadap berbagai ancaman predator alami maupun non alami.

‘’Kalau memang di tempat yang aman, kami biarkan menetas secara alami. Artinya tak perlu kami bawa ke penangkaran. Itu pun juga harus kami awasi ketat. Karena kemungkinan adnaya predator non alami seperti tangan jahil manusia yang mungkin merusak atau mengambil telur,’’ katanya.

 

Kunjungan mahasiswa saat akhir pekan untuk mengenal penyu dan bagaimana cara mengantisipasi dari kepunahan.

Saat didatangi oleh tim beritajatim.com, Cuboh masih menunggu menetasnya tukik dari dua sarang yang dia amankan dengan total telur kurang lebih 200 butir. Proses pengamanan telurnya juga tidak boleh asal. Harus penuh kehati-hatian. Pasirnya harus ikut dibawa ke pasir di tempat penetasan agar telur bisa menetas sempurna. Posisi telurnya juga tak boleh berubah.

‘’Sekarang sudah menetas, tapi tidak semua bisa langsung kami release ke laut. Ada tukik yang keadaannya tidak sempurna, sehingga perlu waktu sebelum bisa berenang dengan leluasa di lautan,’’ katanya.

Setidanya utuh waktu yang beda-beda tergantung dari kondisi tukik. Yang paling umum adalah kondisi cangkang. Ada cangkang tukik yang terlihat tidak simetris. Hal itulah yang membuat tukik kadang akan kesulitan berenang di laut lepas. Sehingga, kemungkinannya untuk hidup yang lebih panjang jadi sangat kecil.

‘’Dari 100 penyu yang mungkin menetas dan dirilis ke laut, hanya satu atau dua yang bisa hidup sampai dewasa. Itupun, kalau masih bisa hidup sampai 40 tahun lebih. Karena minimal penyu yang bisa bertelur harus mencapai usia 40 lebih dan siap kawin hingga bertelur,’’ kata Cuboh. (fiq/ted)


Apa Reaksi Anda?

Komentar