Gaya Hidup

Rumah Cinta Ngimbang Suguhkan Tarian Sufi

Lamongan (beritajatim.com) – Rumah Cinta Ngimbang Lamongan menggelar peringatan hari ulang tahun Tari Sufi Ngimbang yang ke 2, sekaligus merayakan ulang tahun KH Amin Maulana Budi Harjono yang ke 58, di halaman Masjid Nurul Huda Desa Sendangrejo Kecamatan Ngimbang Kabupaten Lamongan, Senin (17/5/2021) Siang.

Dalam kegiatan tersebut, Rumah Cinta menyuguhkan Tarian Sufi atau yang dikenal juga sebagai whirling dervishes, merupakan tarian telah ada sejak abad 13 dan sangat lekat dengan pemikiran sufistik Islam. Kegiatan ini dilakukan dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.

Para penari terlihat memakai baju khasnya, jubah berukuran besar dengan bagian bawah seperti rok yang melebar, dan memakai peci panjang yang disebut sikke.

Ketua Rumah Cinta, Ilham Krismana mengungkapkan, kegiatan ini dilakukan sebagai wadah silaturahmi dan memperkuat Ukhuwah Insaniyah sesama penari sufi karena telah lama tak bisa mengadakan kegiatan bersama akibat mewabahnya Covid 19.

“Kegiatan seperti ini (menari dan belajar bersama), mestinya kami lakukan rutin tiap bulan. Dimulai di Ngimbang, bulan depan di Bluluk, sebagai sarana memperkuat ukhuwah, silaturrahmi sesama penari sufi, sekaligus memperkuat wawasan dan memperkaya pengetahuan tentang Tari Sufi, bukan hanya sekedar bisa menari saja,” ungkap Ilham kepada beritajatim.com

Para penari terlihat menarikannya dengan penuh penghayatan, sambil diiringi salawat dan berputar-putar tanpa henti. bertumpu pada kakinya tanpa jeda, tanpa takut merasa pusing atau oleng. Terlihat sangat indah, wajar saja jika saat ini tarian Sufi juga menjadi salah satu atraksi wisata lokal andalan di Ngimbang dan sekitarnya.

Tak hanya itu, ada banyak filosofi dan makna yang terkandung dalam tiap gerakan di tarian yang pertama kali dipertunjukkan di wilayah Anatolia Turki tersebut. Di antaranya untuk menemukan tujuan hidup yang hakiki.

Sementara itu, Ocha, perempuan cilik asal Ngimbang yang merupakan salah satu penari Sufi mengatakan, bahwa dirinya sangat senang dengan diadakannya kegiatan ini. Pasalnya, ia sempat vakum dan tak menari sufi bersama yang lain akibat pandemi covid 19.

“Terus terang kami rindu menari, sudah lama kami tidak diajak menari, karna wabah corona. Alhamdulillah, pada harlah Tari Sufi Ngimbang yang kedua ini, kami bisa menari bersama lagi, setelah sekian lama vakum, kami sangat senang,” ujar Ocha.

Sementara itu, Moh Abdullah Madjid, penari Sufi Ngimbang, dalam kegiatan tersebut mengaku, seorang penari Sufi diharuskan menanggalkan semua emosi, agar hanya merasakan kecintaan dan kerinduan yang mendalam pada Tuhan.

“Tak hanya menanggalkan emosi. Bahkan para penari juga harus memiliki fisik yang kuat. Karena seringkali putaran dalam tari membutuhkan waktu yang lama,” terangnya.

Semua penari Sufi Ngimbang berharap, Pandemi Covid 19 segera berakhir, sehingga mereka bisa melakukan aktifitas dengan lancar dan bisa tampil di panggung bersama-sama lagi. [aht/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar