Gaya Hidup

Ritual ‘Jamas’ Keris Keraton Sumenep, Bukti Peduli Tradisi

Sumenep (beritajatim.com) – Tradisi ritual turun temurun saat di 1 Muharram, ternyata tidak hanya dilakukan di beberapa daerah di Jawa Tengah seperti yang sudah sering dikenal. Di Kabupaten Sumenep, ritual serupa juga rutin dilakukan.

Sumenep yang juga memiliki keraton, setiap 1 Suro rutin melakukan ritual Jamas (pembersihan: red) terhadap pusaka Keraton Sumenep. Jamas keris itu diyakini mampu mengembalikan kekuatan pusaka tersebut.

“Saat dilakukan penjamasan, tentu ada mantera-mantera khusus yang dibaca oleh kami para mpu disini. Setelah dijamas, kekuatan keris akan kembali seperti semula,” kata salah satu mpu Desa Aeng Tongtong, Moh. Anwar, Kamis (26/11/2020).

Kabupaten Sumenep menjadi satu-satunya daerah di Indonesia yang mendapat pengakuan dari United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (Unesco) sebagai daerah dengan pembuat keris (mpu) terbanyak dan masih eksis. Pusat pembuatan keris ada di Desa Aeng Tongtong, Kecamatan Saronggi.

Pada 2012, badan PBB tersebut mencatat ada 648 empu yang ada di wilayah Sumenep yang masih eksis dalam pembuatan berbagai jenis pusaka. Selain di Desa Aeng Tongtong, Kecamatan Saronggi, para pembuat keris itu juga tersebar di wilayah Kecamatan Lenteng dan Bluto. Karena itu, tidak heran kalau pemerintah kabupaten setempat, memilih ikon Sumenep Kota Keris.

“Prosesi jamas ini rutin kami lakukan untuk keris atau pusaka keraton, serta keris milik masyarakat lainnya. Pusaka ini selesai dijamas kemudian dikirab dan dikembalikan lagi ke keraton, sebagai bentuk penghormatan kami,” ujar Anwar.

Sementara Mpu yang lain, Sunamo, menuturkan, prosesi jamasan keris diawali dengan pengumpulan air dari tujuh sumur kuno pada tanggal 1 Muharram. Air sumur kuno itu ada di berbagai tempat. Misalnya di Lembung, Langsar, Talang, dan juga air dari Keraton Sumenep. Air tersebut kemudian dicampur dengan kembang tujuh rupa.

“Tujuh air sumur dan tujuh warna kembang itu disatukan. Makna dari tujuh itu melambangkan kehidupan. Misalnya, tujuh langit, tujuh bumi, dan tujuh masa. Semua itu diajarkan oleh nenek moyang kami,” tutur Sunamo.

Selain itu, ada pengharum yang sengaja diambilkan dari Keraton Sumenep yakni dupa atau kemenyan keraton. “Proses pelaksanaan jamasan keris atau pusaka lainnya juga dilakukan pada tujuh Suro yang merupakan perlambang kehidupan manusia,” tuturnya.

Setelah prosesi jamasan keris yang bertempat di Dusun Duko tersebut selesai, sejumlah pusaka dibawa ke makam pembabat Desa Aeng Tongtong dikebumikan, yakni di Dusun Entena.

Warga setempat menyebutnya ‘Bujuk Duwak’ atau Dua Makam, karena ada dua nisan di tempat ini. Bujuk Duwak ini sangat dikeramatkan oleh warga setempat. Di salah satu batu nisan tersebut terdapat tulisan 1.228 yang menandatangan tahun.

“Proses jamasan keris dilakukan untuk dua pusaka milik Keraton Sumenep dan tujuh pusaka milik leluhur Aeng Tongtong yang saat ini dipegang oleh keturunannya. Dan pada proses jamas massal, ada 17 keris dan tombak milik warga,” paparnya.

Ritual jamas keris dianggap selesai dan sah ditandai dengan Topa’ Lobar oleh Bupati Sumenep, A Busyro Karim. Topa’ Lobar adalah ketupat yang dianyam sedemikian rupa dan terlepas saat bagian ujung dan pangkalnya ditarik. Isi dari ketupat itu beras warna kuning

“Sejak dulu, keris-keris karya empu Aeng Tongtong sudah sampai ke Belanda, Thailand, dan Amerika Serikat. Jadi keberadaan keris Aeng Tongtong ini memang sudah sangat tersohor. Proses jamasan keris ini sebagai bukti bahwa kami peduli pada tradisi. Mari kita sama-sama menjaga dan melestarikan budaya leluhur,” ucap Bupati Sumenep, A. Busyro Karim. (tem/kun)



Apa Reaksi Anda?

Komentar