Gaya Hidup

Puluhan Layang-layang Unik Terbang di Langit Mojokerto

Para peserta kesulitan menerbangkan layang-layang karena tidak ada angin. [Foto: misti/beritajatim]

Mojokerto (beritajatim.com) – Puluhan layang-layang dengan berbagai bentuk menghiasi langit Dusun Mlati, Desa Simongagrok, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto. Puluhan layang-layang ini diterbangkan dalam rangka Lomba Layang-layang Unik 2019 yang digelar oleh Humas Dawarblandong.

Layang-layang yang dilombakan ada berbagai bentuk. Mulai dari kapal bajak laut, tokoh wayang, tokoh kartun, Naga Merah, Naga Baru Klinting, Nyi Roro Kidul, kerangka tengkorak, hewan dan manusia dengan mengendarai sepeda angin.

Tentu tidak mudah bagi para peserta untuk menerbangkan layang-layang dengan berbagai bentuk dan ukuran tersebut. Terik matahari yang menyengat serta tidak adanya hembusan angin, membuat para peserta harus menunggu datangnya tiupan angin.

Tidak adanya angin menjadi kendala para peserta untuk melepas layang-layang. Sembari angin datang, para peserta mengulur benang layang-layang. Namun karena tidak ada angin sehingga membuat layang-layang para peserta jatuh kembali ke tanah.

Para peserta kemudian mencari akal, agar layang-layang bisa mengudara dengan tinggi, yakni dengan mencoba berlari kencang sambil memegang benang dan layang-layang. Ada juga yang menerbangkan layang-layang dengan lokasi yang lebih jauh dari tempat perlombaan sehingga para penonton memberikan tepukan dan sorakan sebagai suport.

Salah satu peserta, Joko (33) mengatakan, ia bersama empat orang temannya membutuhkan waktu selama satu minggu setengah untuk membuat layang-layang berbentuk kapal bajak laut. “Panjang layang-layang sekitar 2,5 meter dan tinggi kurang lebih 3 meter,” ungkapnya, Minggu (6/10/2019).

Pria asal Kabupaten Lamongan ini berharap melalui lomba tersebut, bisa melestarikan budaya layang-layang yang dinilai jarang dimainkan oleh generasi milenial saat ini. Sementara itu, salah satu peserta asal Malang, Hartono (41) mengaku, membutuhkan waktu satu bulan untuk membuat layangan berbentuk naga merah.

“Panjangnya 3 meter. Kalau layang-layang naga kesulitannya membutuhkan bahan baku dan waktu yang banyak. Terus bagian badan harus sama dengan yang lainnya. Kalau tidak sama bisa berat saat menerbangkannya, apalagi tidak ada angin. Jadi kendala untuk menerbangkannya,” ujarnya.

Sementara itu, seksi Perlombaan Layang-layang Unik 2019, Warsito mengatakan, acara tersebut baru digelar pertama kali. “Ada 50 peserta. Kami melakukan penilaian berdasarkan keunikan, kreatifitas, cara pembuatan dan tingkat kerumitan layangan. Meski baru digelar, namun antusias peserta cukup besar,” jelasnya.

Masih kata Warsito, layang-layang tersebut diikuti sejumlah komunitas pecinta layangan dan masyarakat umum baik dari Mojokerto dan luar daerah. Seperti Daerah Malang, Gresik, Lamongan, Sidoarjo dan Blitar. Layang-layang yang dilombakan ada berbagai bentuk.

“Kedepannya, kita akan mengagendakan acara yang serupa dengan lebih besar lagi.┬áPaling tidak skala nasional karena kami membudidayakan layangan yang hampir punah,” imbuhnya. [tin/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar