Gaya Hidup

Puan Seni Ingin Gerakkan Kegiatan Seni Budaya

Sidoarjo (beritajatim.com) – Perempuan pekerja seni berada dalam simpul ruang privat dan ruang publik yang tak terpisahkan. Ruang publik perempuan pekerja seni tentu saja tak lepas dari aktivitas kekaryaannya, dan kemasyarakatan. Namun, tidak hanya itu bagi perempuan pekerja seni di Indonesia, ketidakmerataan akses, kurangnya kesempatan, lemahnya dukungan dan kesempatan berkarya juga menjadi permasalahan lain.

“Hal ini terutama dirasakan perempuan seniman di daerah-daerah di luar Jawa. Berbagai persoalan lain dirasakan juga oleh perempuan pekerja seni, seperti persoalan seksisme, pelecehan seksual dan lemahnya representasi perempuan dalam berbagai proyek kesenian,” kata Ama Achmad, Ketua Perkumpulan Perempuan Pekerja Seni Indonesia, Selasa (9/3/2021).

Ama Achmad menuturkan, diawali diskusi yang sudah dibangun sejak 2015, berbagai diskusi Temu Seni Perempuan di Bali, NTT dan Sulawesi, perempuan pekerja seni pun berhimpun. “Kegiatan menjadi lebih intensif dengan diperluasnya Jaringan Seni Perempuan sejak 2019, kemudian diskusi daring selama pandemi,” katanya.

Perkumpulan diinisiasi oleh beberapa pegiat seni antara lain Dolorosa Sinaga, Olin Monteiro, Vivian Idris, Hartati, Irawita, Linda Tagie, didukung Aquino W. Hayunta dan lainnya. “Kemudian dengan berbagai diskusi intensif, sejak tahun 2020, akhirnya Perkumpulan Perempuan Pekerja Seni Indonesia lahir di tengah pada Maret 2021,” ujar Ama Achmad.

Dijelaskannya, Perkumpulan Perempuan Pekerja Seni Indonesia atau yang disingkat PuanSeni memiliki visi, memastikan kontribusi perempuan yang sangat penting dalam ekosistem seni budaya berbasis HAM, kesetaraan gender, keberagaman untuk semua kelompok, termasuk kelompok marjinal/minoritas tanpa diskriminasi.

“PuanSeni mempunyai misi untuk membangun kekuatan gerakan perempuan dalam mencerdaskan bangsa; membangun sinergi dengan stakeholder dan negara untuk meningkatkan tata kelola pengetahuan seni dan budaya perempuan Indonesia, melalui berbagai kegiatan yang tidak bertentangan dengan visi dan nilai perkumpulan; memperjuangkan perubahan nilai, sikap, dan perilaku masyarakat patriarkis ke arah masyarakat adil dan setara; serta melakukan ikhtiar lain yang tidak bertentangan dengan azas dan tujuan perkumpulan,” papar Ama Achmad.

Sebagai organisasi baru yang menghimpun semua pekerja seni perempuan dari lintas seni, Puan Seni membuat program-program perkumpulan yang sifatnya berupa program tetap, dan program kolaborasi antaranggota. Ruang besar berhimpun ini juga sebagai pintu advokasi dan berjejaring, bagi perempuan pekerja seni.

“Nilai-nilai perkumpulan dalam organisasi ini merupakan landasan penting bagi perjalanan Puan Seni ke depannya. Dari semangat menjunjung keadilan, demokratis, kebebasan berekspresi, keberagaman, nonkekerasan, anti korupsi, menjaga lingkungan, nonpatriarkis, dan anti pembodohan, diharapkan Puan Seni menjadi bagian penting dalam ekosistem seni dan budaya yang ideal dan setara,” kata Ama Achmad.

Tidak hanya itu, secara tegas Puan Seni juga menyatakan tidak berafiliasi dengan partai politik mana pun, dan tidak bekerja sama dengan institusi/komunitas/perusahaan yang praktik korporasi dan sosialnya bertentangan dengan nilai-nilai keadilan dan kesetaraan. “PuanSeni ingin menggugat budaya patriarki dalam ekosistem seni, kemudian juga menolak pembiaran pembodohan terhadap masyarakat Indonesia yang kemudian menghambat peran serta perempuan dalam berbagai kontribusinya,” kata Ama Achmad.

Puan Seni berharap bisa merangkul semua perempuan pekerja seni ke dalam ruang besar ini. Sehingganya, dicetuskan pembentukan koordinator wilayah untuk menjadi bagian penting dalam pergerakan ini. Adapun koordinator wilayah dimaksud, meliputi Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali&NTB, NTT, Sulawesi, Maluku & Papua. Puan Seni berharap semua perempuan pekerja seni bisa berkesempatan untuk aktif menjadi anggota dan menjadi pengurus jaringan yang dibangun dengan semangat kerelawanan, kesetaraan dan demokratis.

Hasil keputusan rapat pemilihan pengurus dan pendirian perkumpulan 27 Februari 2021, memutuskan Ketua Perkumpulan, Ama Achmad seorang penulis dan pegiat literasi dari Luwuk, Sulawesi Tengah. Kemudian Sekretaris Perkumpulan Linda Tagie, seniman teater dari Kupang, NTT. Dan Bendahara Perkumpulan Irawita, pegiat teater dari Jakarta. Dewan Pengawas terdiri dari Dolorosa Sinaga, Vivian Idris, Hartati, Faiza Mardzoeki dan Prof. Melani Budianta.

“Keberadaan Puan Seni bukan hanya sebagai rumah berhimpun tetapi ruang untuk menggerakkan kegiatan seni budaya demi memajukan kecerdasan bangsa,” tandas Ama Achmad. [but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar